Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila adzan dikumandangkan, setan pergi melarikan diri sambil buang angin agar tidak mendengar adzan. Apabila adzan selesai, dia kembali. Apabila iqamah dikumandangkan, dia lari lagi, dan apabila selesai, dia kembali lagi, hingga ia membisikkan antara seseorang dengan hatinya: Ingatlah ini, ingatlah itu, yang sebelumnya tidak ia ingat, sehingga seseorang itu tidak mengetahui berapa rakaat ia telah salat.”
Penerbangan Setan pada Saat Azan
Riwayat ini dari Sahih al-Bukhari (608) mengungkapkan realitas spiritual yang mendalam mengenai Azan. Ketika azan dikumandangkan, Setan melarikan diri dengan sangat tergesa-gesa sehingga ia kentut keras untuk menghindari mendengar kata-kata suci. Ini menunjukkan kekuatan spiritual dan kesucian Azan yang sangat besar, yang memaksa yang terkutuk itu mundur dari sekitar peringatan ilahi.
Hikmah di Balik Mundur dan Kembalinya Setan
Para ulama menjelaskan bahwa penerbangan Setan terjadi karena Azan mengandung deklarasi kebesaran Allah, kesaksian iman, dan seruan kepada kesuksesan dan sholat - semuanya bertentangan dengan misi Setan dalam menyesatkan.
Kembalinya setelah Azan dan penerbangan kedua pada Iqamah menunjukkan bahwa permusuhannya gigih, tetapi tindakan ibadah yang ditetapkan menciptakan interval terlindung di mana orang beriman dapat beribadah tanpa gangguan.
Bisikan Halus Selama Sholat
Deskripsi Nabi tentang Setan membisikkan pikiran yang mengganggu (waswas) selama sholat mengungkapkan pertempuran spiritual yang penting. Para ulama mencatat bahwa bisikan ini paling kuat ketika seseorang berdiri di hadapan Allah, karena Setan berusaha meniadakan konsentrasi dan pengabdian sholat.
Solusi yang ditetapkan oleh para ulama adalah mencari perlindungan kepada Allah dari Setan dan dengan lembut mengembalikan fokus pada sholat tanpa kekhawatiran berlebihan atas gangguan alami ini, karena berjuang melawannya sendiri adalah suatu tindakan ibadah.
Panduan Praktis bagi Penyembah
Hadis ini mengajarkan kita untuk sangat menghargai Azan dan meresponsnya dengan segera, mengakuinya sebagai perlindungan yang ditetapkan secara ilahi terhadap pengaruh jahat.
Ketika mengalami gangguan dalam sholat, seseorang harus memahami ini sebagai ujian spiritual yang normal dan bertahan dalam ibadah, karena pahala adalah bagi mereka yang berjuang melawan bisikan ini sambil mempertahankan pengabdian mereka kepada Allah.