Sahih al-Bukhari

Bab : Jika seorang pria berdiri di sisi kiri Imam dan Imam menariknya ke sisi kanannya, maka Salat tidak ada dari mereka yang tidak akan sah

Diriwayatkan Ibnu 'Abbas

Suatu malam aku tidur di rumah bibiku Maimunah, dan Nabi (صلى الله عليه وسلم) berada di sisinya pada malam itu. Beliau berwudu, lalu berdiri untuk salat. Aku pun bangun dan berdiri di sebelah kiri beliau, tetapi beliau menarikku dan menempatkanku di sebelah kanannya. Beliau salat tiga belas rakaat, kemudian tidur hingga terdengar suara napasnya—dan apabila tidur, beliau biasa bernapas dengan suara. Kemudian muazin datang kepada beliau, lalu beliau keluar dan salat Subuh tanpa mengulangi wudu.

Bab : Ketika mempersembahkan Salat (shalat) saja, seseorang dapat memperpanjang Salat sebanyak yang diinginkannya

Diriwayatkan Abu Huraira

Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika salah seorang dari kalian memimpin orang banyak dalam salat, hendaknya ia meringankannya, karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan tua. Dan jika salah seorang dari kalian salat sendirian, maka silakan ia memanjangkannya sesuka hatinya.”

Bab : Pemendekan dan kesempurnaan doa (oleh Imam)

Riwayat Anas

Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) biasa mempersingkat shalat, namun beliau menyempurnakannya.

Bab : Barangsiapa memotong As-Salat (shalat) setelah mendengar tangisan seorang anak.

Diriwayatkan Anas bin Malik

Aku tidak pernah salat di belakang seorang imam yang lebih ringan dan lebih sempurna daripada salat di belakang Nabi ﷺ. Apabila beliau mendengar tangisan bayi, beliau meringankan salat karena khawatir ibunya akan tergoda (terfitnah).

Bab : Meluruskan barisan pada saat Iqama dan setelahnya (segera)

Diriwayatkan An-Nu'man bin 'Bashir

Abu al-Walid Hisyam bin Abdul Malik menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu'bah menceritakan kepada kami, ia berkata: 'Amr bin Murrah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Salim bin Abi al-Ja'd berkata, ia berkata: Aku mendengar an-Nu'man bin Basyir berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Luruskanlah shaf-shaf kalian, atau Allah akan mengubah wajah-wajah kalian."

Bab : Baris pertama

Diriwayatkan Abu Huraira

Nabi ﷺ bersabda, “Para syuhada adalah mereka yang meninggal karena tenggelam, wabah, penyakit perut, atau tertimbun reruntuhan bangunan.” Kemudian beliau menambahkan, “Seandainya orang-orang mengetahui pahala salat Zuhur di awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melakukannya. Seandainya mereka mengetahui pahala salat Isya dan Subuh secara berjamaah, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Seandainya mereka mengetahui pahala salat di barisan terdepan, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.”

Bab : Untuk berdiri bahu-membahu dan kaki ke kaki berturut-turut

Diriwayatkan Anas bin Malik

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Luruskanlah barisan kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku." Dan Anas menambahkan, "Setiap orang dari kami biasa menempelkan bahunya dengan bahu sahabatnya dan kakinya dengan kaki sahabatnya."

Bab : Perlunya mengucapkan Takbir, yaitu Allahu Akbar (Allah Maha Besar) dan dimulainya As-Salat (shalat)

Diriwayatkan Abu Huraira

Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Apabila ia bertakbir, bertakbirlah; apabila ia rukuk, rukuklah; apabila ia mengucapkan 'Sami'a l-lahu liman hamidah', ucapkanlah 'Rabbana wa laka l-hamd'; apabila ia sujud, sujudlah; dan jika ia salat dengan duduk, maka salatlah dengan duduk semuanya.

Bab : Mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan Takbir [pada pembukaan As-Salat (shalat)], dan sambil membungkuk dan mengangkat kepala (setelah membungkuk)

Diriwayatkan 'Abdullah bin 'Umar

Abdullah bin Umar (radhiyallahu 'anhuma) berkata: Aku melihat bahwa apabila Rasulullah ﷺ berdiri untuk shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya. Beliau melakukan hal yang sama ketika bertakbir untuk rukuk dan ketika mengangkat kepalanya dari rukuk, lalu mengucapkan, "Sami'a l-lahu liman hamidah." Tetapi beliau tidak melakukan hal itu (mengangkat tangan) ketika sujud.

Bab : Pembacaan Al-Qur'an (Surat Al-Fatiha) adalah wajib bagi Imam dan para pengikut, di rumah dan dalam perjalanan, dalam semua As-Salat (shalat) apakah pembacaan dilakukan secara diam atau keras.

Diriwayatkan Jabir bin Samura

Musa menceritakan kepada kami, Abu 'Awanah menceritakan kepada kami, 'Abdul Malik bin 'Umair menceritakan kepada kami, dari Jabir bin Samurah, dia berkata: Penduduk Kufah mengadukan Sa'd kepada 'Umar radhiyallahu 'anhu, lalu ia memberhentikannya dan mengangkat 'Ammar sebagai pemimpin mereka. Mereka mengadukan (berbagai hal) hingga mereka menyebutkan bahwa dia tidak pandai salat. Maka ia mengirim utusan kepadanya dan berkata, 'Wahai Aba Ishaq, sesungguhnya mereka ini mengklaim bahwa engkau tidak pandai salat.' Aba Ishaq berkata, 'Adapun aku, demi Allah, aku pernah salat bersama mereka dengan salat seperti salat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, aku tidak menguranginya sedikit pun. Aku salat Isya, aku memanjangkan dua rakaat pertama dan meringankan dua rakaat terakhir.' Dia berkata, 'Itulah dugaan kami terhadapmu, wahai Aba Ishaq.' Lalu dia mengutus seorang atau beberapa orang bersamanya ke Kufah. Maka ia bertanya tentang dirinya kepada penduduk Kufah, dan tidak ada satu masjid pun yang tidak ia tanyai tentangnya, dan mereka memujinya dengan kebaikan, sampai ia masuk ke sebuah masjid milik Bani 'Abs. Maka berdirilah seorang laki-laki dari mereka yang bernama Usamah bin Qatadah, yang kunyahnya Abu Sa'dah, dan berkata, 'Adapun karena engkau telah meminta kami bersumpah, maka sesungguhnya Sa'd tidak pernah berperang bersama pasukan, tidak membagi (rampasan perang) dengan adil, dan tidak berlaku adil dalam memutuskan perkara.' Sa'd berkata, 'Demi Allah, aku akan berdoa dengan tiga hal: Ya Allah, jika hamba-Mu ini adalah seorang pendusta dan berdiri karena riya' dan sum'ah, maka panjangkan umurnya, panjangkan kefakirannya, dan timpakanlah dia dengan cobaan.' Setelah itu, apabila ditanya, dia berkata, 'Aku adalah seorang tua yang terkena cobaan; doa Sa'd telah menimpaku.' 'Abdul Malik berkata, 'Maka aku melihatnya setelah itu, kedua alisnya telah jatuh menutupi matanya karena tua, dan sungguh dia sering mengganggu gadis-gadis di jalan-jalan dengan mencubit mereka.'

Diriwayatkan 'Ubada bin As-Samit

Rasulullah (ﷺ) bersabda: 'Barangsiapa tidak membaca Al-Fatihah dalam salatnya, maka salatnya tidak sah.'

Diriwayatkan Abu Huraira

Rasulullah ﷺ masuk ke masjid, lalu seorang laki-laki masuk dan ikut shalat. Dia shalat, kemudian datang kepada Nabi ﷺ dan memberi salam. Nabi ﷺ menjawab salamnya dan berkata, “Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Laki-laki itu kembali dan shalat seperti sebelumnya, kemudian datang dan memberi salam kepada Nabi ﷺ, dan beliau berkata, “Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Hal ini terjadi tiga kali. Laki-laki itu berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini. Maka ajarkanlah aku.” Nabi ﷺ bersabda, “Apabila engkau berdiri untuk shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur'an, kemudian rukuklah sampai engkau thuma'ninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau thuma'ninah dalam sujud, kemudian duduklah sampai engkau thuma'ninah, dan lakukanlah itu dalam seluruh shalatmu.”

Bab : Untuk membaca dengan lantang dalam doa 'Isya'.

Diriwayatkan Al-Bara

Abu al-Walid menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu'bah menceritakan kepada kami, dari 'Adi, dia berkata: Aku mendengar al-Bara' bahwa Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) sedang dalam perjalanan, lalu beliau membaca dalam salat Isya pada salah satu dari dua rakaat: 'Demi buah tin dan buah zaitun' (بِالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ, Wa t-teeni wa z-zaitun, Surah At-Tin [95]).

Bab : Perkataan Amin dengan lantang oleh para pengikut

Diriwayatkan Abu Huraira

Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila imam mengucapkan {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} (yaitu: ‘bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat’), maka ucapkanlah ‘Amin’. Sesungguhnya orang yang ucapan ‘Amin’-nya bersamaan dengan ucapan para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, dan oleh Nu‘aim al-Mujmir dari Abu Hurairah.

Bab : Untuk meletakkan tangan (telapak tangan) di kedua lutut sambil membungkuk.

Diriwayatkan Mus'ab bin Sa'd

Abu al-Walid menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu'bah menceritakan kepada kami dari Abu Ya'fur, dia berkata: Aku mendengar Mush'ab bin Sa'd berkata: Aku salat di samping ayahku, lalu aku merapatkan kedua telapak tanganku dan meletakkannya di antara kedua pahaku. Ayahku melarangku dan berkata: Kami dahulu juga melakukan itu, tetapi kami dilarang darinya dan diperintahkan untuk meletakkan tangan di atas lutut.

Bab : Bab tentang meluruskan punggung saat rukuk.

Bab : Dan apa yang dikatakan mengenai batas penyelesaian membungkuk dan menjaga punggung tetap lurus dan ketenangan yang dilakukannya.

Diriwayatkan Al-Bara

Badal ibn al-Muhabbar menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu'bah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Hakam mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Abi Laila, dari al-Bara', dia berkata: Rukuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sujud beliau, duduk di antara dua sujud, dan apabila beliau bangkit dari rukuk – selain berdiri dan duduk – adalah hampir sama (lamanya).

Bab : Apa yang dikatakan Imam dan para pengikut tentang mengangkat kepala mereka dari membungkuk.

Diriwayatkan Abu Huraira

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: Apabila Nabi ﷺ mengucapkan: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» (Allah mendengar orang yang memuji-Nya), beliau mengucapkan: «اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ» (Ya Allah, Rabb kami, milik-Mu segala pujian). Apabila rukuk dan apabila mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau bertakbir (mengucapkan Allahu akbar). Dan apabila bangkit dari dua sujud, beliau mengucapkan: «اللَّهُ أَكْبَرُ» (Allah Mahabesar).

Bab : Bab

Diriwayatkan Abu Salama

Abu Hurairah berkata, "Sungguh, aku akan menyerupakan shalatku dengan shalat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu biasa membaca qunut pada rakaat terakhir dari shalat Zuhur, shalat Isya, dan shalat Subuh, setelah mengucapkan, "Sami'allahu liman hamidah." Dia berdoa untuk orang-orang mukmin dan melaknat orang-orang kafir.

Diriwayatkan Rifa'a bin Rafi' Az-Zuraqi

ʿAbdullāh bin Maslamah menceritakan kepada kami, dari Mālik, dari Nuʿaym bin ʿAbdullāh al-Mujmir, dari ʿAlī bin Yaḥyā bin Khallād az-Zuraqī, dari ayahnya, dari Rifāʿah bin Rāfiʿ az-Zuraqī, dia berkata: Suatu hari kami salat di belakang Nabi ṣallallāhu ʿalaihi wa sallam. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau mengucapkan: “Samiʿa l-Lāhu liman ḥamidah” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya). Seorang laki-laki di belakang beliau berkata: “Rabbanā wa laka l-ḥamdu, ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh” (Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan diberkahi). Ketika beliau selesai salat, beliau bertanya: “Siapakah yang berbicara?” Laki-laki itu menjawab: “Saya.” Beliau bersabda: “Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba untuk menuliskannya lebih dahulu.”