حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُبَارَكٍ، حَدَّثَنَا حَزْمٌ، قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ، قَالَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي بَعْضِ مَخَارِجِهِ وَمَعَهُ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَانْطَلَقُوا يَسِيرُونَ، فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُفَلَمْ يَجِدُوا مَاءً يَتَوَضَّئُونَ، فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَجَاءَ بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ يَسِيرٍ فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ مَدَّ أَصَابِعَهُ الأَرْبَعَ عَلَى الْقَدَحِ ثُمَّ قَالَ ‏"‏ قُومُوا فَتَوَضَّئُوا ‏"‏‏.‏ فَتَوَضَّأَ، الْقَوْمُ حَتَّى بَلَغُوا فِيمَا يُرِيدُونَ مِنَ الْوَضُوءِ، وَكَانُوا سَبْعِينَ أَوْ نَحْوَهُ‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan oleh 'Imran ibn Husain

Kami pernah bersama Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) dalam suatu perjalanan. Kami berjalan sepanjang malam, dan ketika fajar hampir tiba, kami berhenti untuk beristirahat. Kami tertidur pulas hingga matahari telah naik. Orang yang pertama kali bangun dari tidurnya adalah Abu Bakar. Biasanya Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak dibangunkan dari tidurnya; beliau bangun sendiri. Ketika Umar terbangun, Abu Bakar duduk di dekat kepalanya dan bertakbir "Allahu Akbar" dengan suara keras, hingga Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) terbangun. Beliau turun dari kendaraannya lalu mengimami kami salat Subuh.

Ada seorang laki-laki dari kaum tersebut yang menyendiri dan tidak salat bersama kami. Ketika Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) selesai salat, beliau bersabda, "Wahai Fulan, apa yang menghalangimu untuk salat bersama kami?" Ia menjawab, "Aku dalam keadaan junub." Maka beliau memerintahkannya untuk bertayamum dengan debu yang suci, lalu ia pun salat.

Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menempatkanku di atas kendaraan di depannya. Kami sangat kehausan. Ketika kami sedang berjalan, kami bertemu dengan seorang wanita yang menggantungkan kedua kakinya di antara dua geriba (tempat air). Kami bertanya kepadanya, "Di mana air?" Ia menjawab, "Tidak ada air." Kami bertanya lagi, "Berapa jarak antara keluargamu dengan air?" Ia menjawab, "Satu hari satu malam." Kami berkata, "Pergilah kepada Rasulullah." Ia berkata, "Siapakah Rasulullah?" Kami tidak memberinya pilihan hingga kami membawanya menghadap Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam). Wanita itu menceritakan kepada beliau seperti yang ia ceritakan kepada kami, hanya saja ia mengabarkan bahwa ia seorang janda yang memiliki anak yatim. Beliau memerintahkan (untuk mengambil) kedua geribanya, lalu beliau mengusap kedua mulut geriba itu. Kami minum, empat puluh orang yang haus, sampai kami puas. Kami juga mengisi setiap geriba dan bejana yang kami bawa, namun kami tidak memberi minum unta, dan geriba-geriba itu hampir pecah karena penuh.

Kemudian beliau bersabda, "Berikanlah sesuatu yang kalian miliki (kepadanya)." Maka mereka mengumpulkan untuknya potongan-potongan roti dan kurma, hingga wanita itu kembali kepada keluarganya. Ia berkata, "Aku telah bertemu dengan manusia yang paling menakjubkan; atau sungguh dia seorang nabi sebagaimana mereka klaim." Maka Allah memberi petunjuk kepada kabilah itu melalui wanita tersebut; ia masuk Islam dan mereka (juga) masuk Islam.

Comment

Kebajikan dan Keutamaan Nabi (saw) dan Para Sahabatnya

Sahih al-Bukhari 3574

Konteks Naratif

Hadis yang diberkati ini menceritakan sebuah perjalanan di mana Nabi Muhammad (ﷺ) dan sekitar tujuh puluh sahabat menghadapi ketidakmurnian ritual tanpa air yang cukup untuk wudhu.

Sifat Mukjizat

Tindakan Nabi meletakkan jari-jari yang diberkati ke dalam pot kecil menunjukkan mukjizat yang jelas (mu'jizah) yang diberikan oleh Allah untuk menegaskan kenabiannya. Air tersebut berlipat ganda cukup untuk semua sahabat melakukan wudhu yang lengkap.

Implikasi Hukum

Para ulama menyimpulkan bahwa air yang disentuh oleh Nabi (ﷺ) tetap murni dan menyucikan. Insiden ini juga menunjukkan kebolehan menggunakan air minimal untuk wudhu ketika diperlukan dan pentingnya menjaga kemurnian ritual selama perjalanan.

Pelajaran Spiritual

Peristiwa ini mengajarkan kepercayaan penuh pada penyediaan Allah melalui Utusan-Nya. Kepatuhan segera para sahabat tanpa bertanya menunjukkan iman yang sempurna. Perbanyakan berkah melalui sentuhan Nabi menggambarkan status khususnya sebagai kekasih Allah.