حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا حُصَيْنٌ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَعَطِشَ النَّاسُ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ، وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ فَتَوَضَّأَ فَجَهَشَ النَّاسُ نَحْوَهُ، فَقَالَ ‏"‏ مَا لَكُمْ ‏"‏‏.‏ قَالُوا لَيْسَ عِنْدَنَا مَاءٌ نَتَوَضَّأُ وَلاَ نَشْرَبُ إِلاَّ مَا بَيْنَ يَدَيْكَ، فَوَضَعَ يَدَهُ فِي الرَّكْوَةِ فَجَعَلَ الْمَاءُ يَثُورُ بَيْنَ أَصَابِعِهِ كَأَمْثَالِ الْعُيُونِ، فَشَرِبْنَا وَتَوَضَّأْنَا‏.‏ قُلْتُ كَمْ كُنْتُمْ قَالَ لَوْ كُنَّا مِائَةَ أَلْفٍ لَكَفَانَا، كُنَّا خَمْسَ عَشْرَةَ مِائَةً‏.‏
Terjemahan
Imran bin Husain

Imran bin Husain meriwayatkan: Kami pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Kami berjalan sepanjang malam hingga ketika fajar hampir tiba, kami berhenti. Kantuk menguasai kami hingga matahari terbit. Orang yang pertama bangun dari tidurnya adalah Abu Bakar. Mereka biasa tidak membangunkan Rasulullah ﷺ dari tidurnya sampai beliau bangun sendiri. Kemudian Umar terbangun, lalu Abu Bakar duduk di dekat kepalanya dan bertakbir dengan mengeraskan suaranya hingga Nabi ﷺ terbangun. Beliau turun dan mengimami kami shalat Subuh. Seorang laki-laki dari kaum itu menjauh dan tidak shalat bersama kami. Ketika selesai, beliau bersabda, "Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk shalat bersama kami?" Dia menjawab, "Aku terkena junub." Maka beliau memerintahkannya untuk bertayamum dengan debu yang suci, lalu dia shalat.

Rasulullah ﷺ menempatkanku di depan beliau di atas kendaraan. Kami telah merasa sangat haus. Saat kami dalam perjalanan, tiba-tiba kami bertemu seorang wanita yang menjulurkan kedua kakinya di antara dua geriba. Kami bertanya kepadanya, "Di mana air?" Dia menjawab, "Tidak ada air." Kami bertanya, "Berapa jarak antara keluargamu dan air?" Dia menjawab, "Satu hari satu malam." Kami berkata, "Pergilah kepada Rasulullah ﷺ." Dia berkata, "Apa itu Rasulullah?" Kami tidak membiarkan urusannya sampai kami membawanya menghadap Nabi ﷺ. Dia menceritakan kepada beliau seperti yang dia ceritakan kepada kami, hanya saja dia menceritakan bahwa dia adalah seorang janda. Maka beliau memerintahkan kedua geribanya dan mengusap kedua lubangnya. Kami pun minum, meskipun kami kehausan, sebanyak empat puluh orang hingga kami puas. Kami mengisi setiap geriba dan bejana yang kami miliki, kecuali kami tidak memberi minum unta. Hampir saja geriba itu pecah karena penuh.

Kemudian beliau bersabda, "Bawalah apa yang ada padamu." Maka dikumpulkan untuknya potongan-potongan roti dan kurma, hingga dia sampai kepada keluarganya. Dia berkata, "Aku bertemu dengan manusia yang paling pandai sihir, atau dia seorang Nabi sebagaimana mereka katakan." Maka Allah memberi petunjuk kepada kelompok itu melalui wanita tersebut; dia masuk Islam dan mereka pun masuk Islam.

Comment

Mukjizat Air dari Jari-Jari Nabi

Riwayat ini dari Jabir bin Abdullah menggambarkan salah satu mukjizat jelas (mu'jizat) yang diberikan kepada Nabi Muhammad (semoga damai besertanya) dengan izin Allah selama Perjanjian Hudaybiyah.

Konteks dan Signifikansi

Insiden ini terjadi pada momen kesulitan parah ketika pasukan Muslim sekitar 1.500 sahabat menghadapi kehausan ekstrem dengan persediaan air terbatas.

Mukjizat ini menunjukkan dukungan Allah untuk Utusan-Nya dan berfungsi sebagai bukti nyata kenabian Muhammad, mirip dengan mukjizat yang diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya seperti Musa (air dari batu).

Komentar Ilmiah

Ulama klasik mencatat bahwa mukjizat seperti itu sering terjadi selama masa hidup Nabi untuk memperkuat iman orang beriman dan menunjukkan dukungan ilahi.

Air yang mengalir dari antara jari-jari Nabi melambangkan kelimpahan berkah ilahi yang mengalir melalui utusan-utusan terpilih.

Penyebutan spesifik Jabir tentang angka (1.500) dan pernyataannya bahwa itu akan cukup bahkan untuk 100.000 orang menekankan sifat supernatural peristiwa ini di luar penjelasan alami apa pun.

Pelajaran Spiritual

Insiden ini mengajarkan ketergantungan penuh (tawakkul) pada Allah selama masa kesulitan dan kelangkaan.

Ini menggambarkan bahwa penyediaan ilahi datang dengan cara yang melampaui pemahaman manusia ketika orang beriman menaruh kepercayaan mereka pada Allah dan mengikuti Utusan-Nya.

Mukjizat ini berfungsi sebagai bukti abadi bagi semua generasi tentang kebenaran Islam dan kenabian otentik Muhammad (semoga damai besertanya).