حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبِي، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَى شَجَرَةٍ أَوْ نَخْلَةٍ، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ ـ أَوْ رَجُلٌ ـ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نَجْعَلُ لَكَ مِنْبَرًا قَالَ ‏"‏إِنْ شِئْتُمْ ‏"‏‏.‏ فَجَعَلُوا لَهُ مِنْبَرًا، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ دُفِعَ إِلَى الْمِنْبَرِ، فَصَاحَتِ النَّخْلَةُ صِيَاحَ الصَّبِيِّ، ثُمَّ نَزَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَضَمَّهُ إِلَيْهِ تَئِنُّ أَنِينَ الصَّبِيِّ، الَّذِي يُسَكَّنُ، قَالَ ‏"‏ كَانَتْ تَبْكِي عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ عِنْدَهَا ‏"
Terjemahan
Diriwayatkan oleh Jabir bin `Abdullah

Abu al-Walid menceritakan kepada kami, Salam bin Zarir menceritakan kepada kami, aku mendengar Abu Raja' berkata: 'Imran bin Husain menceritakan kepada kami bahwa mereka pernah bersama Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) dalam suatu perjalanan. Mereka berjalan malam hingga ketika waktu subuh tiba, mereka singgah, lalu kantuk menguasai mereka hingga matahari naik tinggi. Orang yang pertama kali terbangun dari tidurnya adalah Abu Bakar. Mereka tidak membangunkan Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) dari tidurnya hingga beliau bangun sendiri. Kemudian Umar terbangun, lalu Abu Bakar duduk di dekat kepalanya dan mulai bertakbir serta mengeraskan suaranya hingga Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) terbangun. Beliau turun dan mengimami kami salat Subuh. Ada seorang laki-laki dari kaum itu yang menyendiri dan tidak salat bersama kami. Ketika beliau selesai, beliau bersabda, "Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk salat bersama kami?" Dia menjawab, "Aku dalam keadaan junub." Maka beliau memerintahkannya untuk bertayamum dengan debu yang suci, kemudian dia salat.

Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjadikanku membonceng di hadapannya. Kami sangat kehausan. Ketika kami berjalan, tiba-tiba kami bertemu seorang wanita yang menjulurkan kedua kakinya di antara dua geriba. Kami bertanya kepadanya, "Di mana air?" Dia menjawab, "Tidak ada air." Kami bertanya, "Berapa jarak antara keluargamu dan air?" Dia menjawab, "Satu hari satu malam." Kami berkata, "Pergilah kepada Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam)." Dia berkata, "Siapa itu Rasulullah?" Kami tidak membiarkannya hingga kami menemui Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) dengannya. Wanita itu menceritakan kepada beliau seperti yang dia ceritakan kepada kami, hanya saja dia menceritakan bahwa dia adalah seorang janda. Beliau memerintahkan kedua geribanya, lalu beliau mengusap bagian mulut keduanya. Maka kami minum, kami yang haus ini, empat puluh orang laki-laki, hingga kami puas. Kami mengisi setiap geriba dan cerek yang ada bersama kami, tetapi kami tidak memberi minum seekor unta pun, dan hampir saja kedua geriba itu pecah karena penuh. Kemudian beliau bersabda, "Bawalah apa yang kalian miliki." Maka dikumpulkan untuknya potongan-potongan roti dan kurma, hingga dia pulang ke keluarganya.

Dia berkata, "Aku telah bertemu dengan manusia yang paling hebat sihirnya — atau dia adalah seorang nabi, sebagaimana mereka duga." Allah memberi petunjuk kepada kabilah itu melalui wanita tersebut, maka dia dan mereka masuk Islam.

Comment

Kebajikan dan Keutamaan Nabi (saw) dan Para Sahabatnya

Sahih al-Bukhari 3584

Latar Belakang Kontekstual

Narasi ini menggambarkan transisi dari Nabi menyampaikan khutbah sambil bersandar pada pohon kurma ke penggunaan mimbar yang baru dibangun di masjid.

Kaum Ansar, yang dikenal karena kedermawanan dan cinta mereka kepada Nabi, menawarkan untuk membangunkan beliau mimbar agar khotbahnya lebih nyaman dan terlihat oleh jemaah yang semakin bertambah.

Sifat Mukjizat

Tangisan pohon kurma mewakili salah satu dari banyak mukjizat (mu'jizat) yang diberikan kepada Nabi Muhammad (ﷺ) dengan izin Allah.

Benda mati yang menunjukkan kesadaran dan emosi mengonfirmasi kebenaran Nabi dan status khususnya di hadapan Allah.

Mukjizat ini menyerupai bagaimana gunung dan burung bertasbih kepada Allah bersama Nabi Dawud, menunjukkan bagaimana Allah memberikan tanda-tanda khusus kepada para utusan-Nya.

Signifikansi Spiritual

Kerinduan pohon akan zikir kepada Allah dan pengetahuan agama mengajarkan kita tentang spiritualitas yang melekat dalam ciptaan.

Jika sebatang pohon saja merindukan pengetahuan agama, apalagi manusia, yang dikaruniai akal, harus berusaha mencari dan melestarikan pengetahuan ilahi.

Tanggapan Nabi yang penuh kasih menunjukkan belas kasihannya terhadap semua ciptaan, bahkan tumbuhan.

Komentar Ilmiah

Ulama klasik mencatat bahwa insiden ini membuktikan benda dapat memiliki kesadaran dengan kehendak Allah, meskipun berbeda dengan kesadaran manusia.

Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa tangisan pohon itu disebabkan oleh rindu akan kedekatan dengan wahyu dan kehadiran Nabi yang diberkati.

Peristiwa ini menetapkan keutamaan menghadiri majelis ilmu secara konsisten dan manfaat spiritual dari pertemuan semacam itu.