حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ شُعْبَةَ،‏.‏ حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ، سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ، يُحَدِّثُ عَنْ حُذَيْفَةَ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ أَيُّكُمْ يَحْفَظُ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْفِتْنَةِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ كَمَا قَالَ‏.‏ قَالَ هَاتِ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ‏.‏ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ ‏"‏‏.‏ قَالَ لَيْسَتْ هَذِهِ، وَلَكِنِ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ‏.‏ قَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لاَ بَأْسَ عَلَيْكَ مِنْهَا، إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا‏.‏ قَالَ يُفْتَحُ الْبَابُ أَوْ يُكْسَرُ قَالَ لاَ بَلْ يُكْسَرُ‏.‏ قَالَ ذَاكَ أَحْرَى أَنْ لاَ يُغْلَقَ‏.‏ قُلْنَا عَلِمَ الْبَابَ قَالَ نَعَمْ، كَمَا أَنَّ دُونَ غَدٍ اللَّيْلَةَ، إِنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالأَغَالِيطِ‏.‏ فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَهُ، وَأَمَرْنَا مَسْرُوقًا، فَسَأَلَهُ فَقَالَ مَنِ الْبَابُ قَالَ عُمَرُ‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan oleh 'Imran bin Husain

Telah menceritakan kepada kami Abu al-Walid, telah menceritakan kepada kami Salm bin Zarir, aku mendengar Abu Raja' berkata, telah menceritakan kepada kami 'Imran bin Husain bahwa mereka pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Mereka berjalan sepanjang malam hingga ketika fajar mulai menyingsing, mereka berhenti, lalu rasa kantuk menguasai mereka sampai matahari terbit. Orang yang pertama kali tersadar dari tidurnya adalah Abu Bakar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa tidak dibangunkan dari tidurnya hingga beliau bangun sendiri. Kemudian 'Umar bangun, lalu Abu Bakar duduk di dekat kepalanya dan mulai bertakbir dengan mengeraskan suaranya hingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terbangun. Beliau turun dan mengimami kami shalat Subuh. Seorang laki-laki dari kaum itu menyendiri dan tidak ikut shalat bersama kami. Ketika selesai, beliau bertanya: "Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk shalat bersama kami?" Dia menjawab, "Aku terkena janabah." Maka beliau memerintahkannya untuk bertayammum dengan debu, kemudian dia shalat. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikanku di hadapannya (ikut menaiki kendaraan), sedangkan kami dalam keadaan sangat kehausan. Saat kami berjalan, tiba-tiba kami bertemu dengan seorang wanita yang kedua kakinya menggantung di antara dua geriba (tempat air). Kami bertanya kepadanya, "Di mana air?" Dia menjawab, "Tidak ada air." Kami bertanya, "Berapa jauh antara keluargamu dan air?" Dia menjawab, "Satu hari satu malam." Kami berkata, "Pergilah menemui Rasulullah." Dia bertanya, "Apa itu Rasulullah?" Kami tidak memberikan pilihan kepadanya hingga kami membawanya menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menceritakan kepadanya sebagaimana dia menceritakan kepada kami, hanya saja dia memberitahu beliau bahwa dia adalah seorang ibu yang memiliki anak yatim. Maka beliau memerintahkan (untuk membawa) dua geribanya, lalu beliau mengusap (tangannya) pada kedua mulut geriba tersebut, lalu kami minum, empat puluh orang, hingga kami puas, dan kami memenuhi setiap geriba dan setiap bejana yang kami bawa, hanya saja kami tidak memberi minum unta, dan hampir saja geriba itu pecah karena penuh. Kemudian beliau bersabda: "Bawalah apa yang kalian miliki." Maka mereka mengumpulkan untuknya remah-remah roti dan kurma hingga dia kembali kepada keluarganya. Dia berkata, "Aku telah bertemu dengan orang yang paling pandai sihir, atau dia adalah seorang nabi sebagaimana mereka klaim." Maka Allah memberi petunjuk kepada kaum itu melalui wanita tersebut; dia masuk Islam dan mereka pun masuk Islam.

Comment

Kebajikan dan Keutamaan Nabi (SAW) dan Para Sahabatnya

Sahih al-Bukhari 3586 - Komentar oleh Imam Ibn Hajar al-Asqalani

Analisis Kontekstual

Dialog mendalam antara Umar (RA) dan Hudhaifa (RA) ini mengungkapkan keprihatinan mendalam Para Sahabat tentang cobaan di masa depan. Umar, sebagai Khalifah, mencari panduan spesifik tentang fitnah besar masyarakat yang akan mengguncang komunitas Muslim.

Tanggapan awal Hudhaifa membahas cobaan pribadi, menunjukkan bahwa dosa harian dapat ditebus melalui shalat, sedekah, dan menyuruh kebaikan. Namun, Umar mencari klarifikasi tentang cobaan bencana yang akan muncul seperti gelombang laut yang bergolak.

Penjelasan Metafora Pintu

"Pintu tertutup" mewakili penghalang pelindung dari kepemimpinan yang saleh. Hudhaifa meyakinkan Umar bahwa selama kekhalifahannya, cobaan besar ini tidak akan mempengaruhi komunitas Muslim karena pemerintahan yang adil dan penerapan prinsip-prinsip Islam yang kuat.

Pecahnya pintu menandakan berakhirnya kekhalifahan yang terbimbing dengan benar dan awal dari gejolak politik. Pemahaman Umar bahwa pintu tidak akan tertutup lagi menunjukkan pengakuannya bahwa begitu periode khilafah sempurna berakhir, komunitas akan menghadapi tantangan terus-menerus.

Wawasan Ilmiah

Para ulama klasik mencatat bahwa hadis ini menunjukkan pandangan kenabian tentang cobaan di masa depan dan pentingnya kepemimpinan yang kuat dan adil dalam melindungi umat Muslim dari ancaman internal dan eksternal.

Percakapan ini juga menyoroti kebijaksanaan Para Sahabat dalam memahami nubuat metaforis dan pendekatan hati-hati mereka dalam membahas masalah sensitif tentang cobaan di masa depan.