Muwatta Malik

I'tikaf di bulan Ramadhan

كتاب الاعتكاف

Book 19, Hadith 17
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Ziyad menceritakan kepadaku dari Malik bahwa dia telah mendengar bahwa Said Ibnal-Musayyab biasa berkata, “Barangsiapa yang hadir di isyah di Lailat al-Qadrhas mengambil bagiannya darinya.”

Book 19, Hadith 1
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Aisyah, istri Nabi, semoga Allah memberkahinya dan memberinya keselamatan, berkata: Apabila Rasulullah, semoga Allah memberkahinya dan memberinya keselamatan, sedang beri'tikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku lalu aku menyisirnya, dan beliau tidak masuk ke dalam rumah kecuali untuk keperluan manusia.

Book 19, Hadith 2
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Aisyah apabila sedang melakukan i'tikaf, dia tidak menanyakan keadaan orang sakit melainkan sambil berjalan tanpa berhenti.

Book 19, Hadith 3
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Ia bertanya kepada Ibn Syihab tentang seorang laki-laki yang sedang beri’tikaf, apakah ia boleh masuk ke bawah atap untuk keperluannya, lalu ia menjawab: Ya, tidak mengapa.

Malik berkata: Ketetapan yang berlaku di sisi kami yang tidak ada perselisihan padanya adalah bahwa i’tikaf tidak dimakruhkan di setiap masjid yang ditegakkan di dalamnya salat Jumat. Dan aku tidak memandang kemakruhan i’tikaf di masjid-masjid yang tidak ditegakkan di dalamnya salat Jumat kecuali karena kekhawatiran bahwa orang yang beri’tikaf harus keluar dari masjidnya tempat ia beri’tikaf menuju salat Jumat atau meninggalkannya. Namun jika itu adalah masjid yang tidak ditegakkan di dalamnya salat Jumat dan tidak wajib bagi orang yang berada di dalamnya untuk mendatangi salat Jumat di masjid lain, maka aku tidak melihat keberatan untuk beri’tikaf di dalamnya, karena Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid-masjid.”

Allah menyebut masjid-masjid secara umum seluruhnya dan tidak mengkhususkan satu pun di antaranya.

Malik berkata: Maka barangsiapa berada di sana, ia boleh beri’tikaf di masjid yang tidak ditegakkan di dalamnya salat Jumat, apabila ia tidak wajib keluar darinya menuju masjid yang ditegakkan di dalamnya salat Jumat.

Malik berkata: Orang yang beri’tikaf tidak bermalam kecuali di masjid tempat ia beri’tikaf, kecuali jika kemahnya berada di pelataran dari pelataran-pelataran masjid. Dan aku tidak pernah mendengar bahwa orang yang beri’tikaf mendirikan bangunan untuk ia bermalam di dalamnya kecuali di dalam masjid atau di pelataran dari pelataran-pelataran masjid. Dan di antara yang menunjukkan bahwa ia tidak bermalam kecuali di dalam masjid adalah perkataan ʿAisyah: Apabila Rasulullah, semoga Allah memberkahinya dan memberinya keselamatan, sedang beri’tikaf, beliau tidak masuk ke rumah kecuali untuk keperluan manusia. Dan tidak boleh beri’tikaf di atas atap masjid dan tidak pula di menara, yakni ash-shaum’ah.

Malik berkata: Orang yang beri’tikaf memasuki tempat yang ia kehendaki untuk beri’tikaf di dalamnya sebelum terbenam matahari pada malam yang ia kehendaki untuk beri’tikaf padanya, hingga ia menyongsong dengan i’tikafnya awal malam pertama yang ia kehendaki untuk beri’tikaf padanya. Dan orang yang beri’tikaf disibukkan oleh i’tikafnya, ia tidak menoleh kepada selainnya berupa hal-hal yang menyibukkan, seperti perdagangan atau lainnya. Dan tidak mengapa jika orang yang beri’tikaf memerintahkan sebagian keperluannya, seperti ladangnya dan kemaslahatan keluarganya, dan memerintahkan untuk menjual hartanya atau sesuatu yang tidak menyibukkannya secara langsung. Tidak mengapa melakukan hal itu apabila ringan, yaitu ia memerintahkan hal itu kepada orang yang mencukupinya.

Malik berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari kalangan ahli ilmu menyebutkan syarat dalam i’tikaf. I’tikaf hanyalah suatu amalan dari amalan-amalan seperti salat, puasa, haji, dan yang semisalnya dari amalan-amalan. Baik yang berupa kewajiban maupun sunah, barangsiapa memasuki sesuatu darinya, maka ia hanya beramal sesuai dengan sunah yang telah berlaku. Dan ia tidak boleh mengada-adakan di dalamnya selain apa yang telah dijalani kaum muslimin, baik syarat yang ia syaratkan maupun bid’ah yang ia ada-adakan. Rasulullah, semoga Allah memberkahinya dan memberinya keselamatan, telah beri’tikaf, dan kaum muslimin mengetahui sunah i’tikaf.

Malik berkata: I’tikaf dan jiwar adalah sama, dan i’tikaf bagi penduduk desa dan penduduk badui adalah sama.

Book 19, Hadith 4
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Al-Qasim ibn Muhammad dan Nafi‘, maula Abdullah ibn Umar, berkata: “Tidak ada i‘tikaf kecuali dengan puasa, berdasarkan firman Allah Tabaraka wa Ta‘ala dalam Kitab-Nya:

“Dan makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam dari fajar, kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam, dan janganlah kalian mencampuri mereka sedangkan kalian sedang beri‘tikaf di masjid-masjid.”

Karena sesungguhnya Allah hanya menyebutkan i‘tikaf bersama puasa.”

Malik berkata: “Dan atas dasar itulah perkara di sisi kami, bahwa tidak ada i‘tikaf kecuali dengan puasa.”

Book 19, Hadith 5
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Abu Bakar bin Abdurrahman beri’tikaf. Ia biasa pergi untuk keperluannya di bawah naungan di dalam sebuah kamar yang terkunci di rumah Khalid bin al-Walid, kemudian ia tidak kembali hingga ia menghadiri hari raya Id bersama kaum muslimin.

Book 19, Hadith 6
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Dia melihat sebagian orang-orang berilmu yang, apabila mereka beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan, tidak kembali kepada keluarga mereka hingga mereka menyaksikan Idulfitri bersama orang banyak.

Ziyad berkata: Malik berkata: “Dan hal itu telah sampai kepadaku dari orang-orang utama yang telah berlalu, dan inilah yang paling aku sukai dari apa yang telah kudengar tentang hal itu.”

Book 19, Hadith 7
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Bahwa Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah atas beliau, bermaksud untuk beri’tikaf. Ketika beliau menuju ke tempat di mana beliau bermaksud beri’tikaf di dalamnya, beliau mendapati di sana beberapa tenda: tenda Aisyah, tenda Hafshah, dan tenda Zainab. Ketika beliau melihatnya, beliau bertanya tentang tenda-tenda itu, lalu dikatakan kepada beliau: “Ini adalah tenda Aisyah serta [tenda] Hafshah dan Zainab.”

Maka Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah atas beliau, bersabda: “Apakah kalian mengira bahwa mereka melakukannya karena kebaikan (ketakwaan)?”

Kemudian beliau berbalik pergi dan tidak beri’tikaf, hingga beliau beri’tikaf sepuluh [hari] pada bulan Syawal.

Book 19, Hadith 10
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Ia berkata: Rasulullah, semoga selawat dan salam Allah tercurah kepadanya, biasa beri'tikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadan. Pada suatu tahun beliau beri'tikaf hingga ketika tiba malam kedua puluh satu — yaitu malam yang pada pagi harinya beliau keluar dari i'tikafnya —, beliau bersabda:

“Barangsiapa beri'tikaf bersamaku, hendaklah ia beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir. Sungguh malam ini telah diperlihatkan kepadaku, kemudian aku dibuat lupa akan malam itu. Dan aku melihat diriku sujud pada pagi harinya di air dan tanah lumpur. Maka carilah malam itu pada sepuluh hari terakhir dan carilah pada setiap malam ganjil.”

Abu Sa'id berkata: Langit menurunkan hujan pada malam itu, sedangkan masjid beratapkan anyaman pelepah, sehingga masjid meneteskan air. — Abu Sa'id berkata: — Kedua mataku sendiri melihat Rasulullah, semoga selawat dan salam Allah tercurah kepadanya, beranjak pergi, sedangkan di dahi dan hidung beliau terdapat bekas air dan lumpur, pada pagi hari malam kedua puluh satu.

Book 19, Hadith 11
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan.”

Book 19, Hadith 12
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Bahwa Rasulullah, semoga Allah memberkahinya dan memberinya keselamatan, bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada tujuh (malam) terakhir.”

Book 19, Hadith 13
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Abdullah bin Unais al-Juhani berkata kepada Rasulullah, semoga Allah memberkahinya dan memberinya keselamatan: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang rumahnya jauh, maka perintahkanlah kepadaku satu malam yang aku dapat mendatanginya.”

Maka Rasulullah, semoga Allah memberkahinya dan memberinya keselamatan, bersabda kepadanya: “Datangilah malam kedua puluh tiga dari Ramadan.”

Book 19, Hadith 14
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Rasulullah, semoga Allah memberkahinya dan memberinya keselamatan, keluar menemui kami pada bulan Ramadan dan bersabda: “Sesungguhnya malam ini pada bulan Ramadan telah diperlihatkan kepadaku, hingga dua orang laki-laki saling bertengkar lalu malam itu diangkat. Maka carilah ia pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima.”

Book 19, Hadith 15
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Beberapa laki-laki dari para sahabat Utusan Allah—semoga Allah memberkatinya dan memberinya kesejahteraan—diperlihatkan Malam Kemuliaan dalam mimpi pada tujuh malam terakhir.

Utusan Allah—semoga Allah memberkatinya dan memberinya kesejahteraan— bersabda: 'Sesungguhnya aku melihat mimpi-mimpi kalian telah bersesuaian pada tujuh malam terakhir; maka siapa yang mencarinya dengan sungguh-sungguh, hendaklah ia mencarinya dengan sungguh-sungguh pada tujuh malam terakhir.'

Book 19, Hadith 16
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya, atau apa yang Allah kehendaki dari hal itu, lalu seakan-akan beliau menganggap umur-umur umatnya terlalu pendek sehingga mereka tidak akan mencapai dalam amal seperti yang dicapai oleh selain mereka dalam umur yang panjang, maka Allah memberinya Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Book 19, Hadith 17
Tampilkan teks Arab
Terjemahan

Saʿīd ibn al-Musayyab biasa berkata: “Barangsiapa menghadiri Isya pada malam Lailatulqadar, maka sungguh ia telah mengambil bagiannya darinya.”