Bab : Keutamaan pelayanan dalam peperangan
Aku menemani Jarir bin Abdullah, dan dia melayaniku. Dia lebih tua dari Anas. Jarir berkata, “Aku melihat para Ansar melakukan sesuatu, dan aku tidak mendapati seorang pun di antara mereka kecuali aku telah memuliakannya.”
Bab : Barangsiapa berperang dengan membawa seorang anak laki-laki untuk melayani
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, dari 'Amr, dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Abu Thalhah: “Carilah salah seorang anak muda dari pelayan-pelayanmu untuk melayaniku sampai aku berangkat ke Khaibar.” Maka Abu Thalhah keluar membawaku, dia menaikkanku di belakangnya, sedang aku adalah seorang anak yang hampir baligh. Maka aku melayani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apabila beliau singgah. Dan aku sering mendengar beliau mengucapkan: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kekikiran dan ketakutan, dari beban hutang dan dari penguasaan orang lain.” Kemudian kami tiba di Khaibar. Ketika Allah memberikan kemenangan kepada beliau atas benteng tersebut, disebutkanlah kepada beliau kecantikan Shafiyah binti Huyay bin Akhtab, sedangkan suaminya telah terbunuh dan dia adalah seorang pengantin baru. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memilihnya untuk dirinya, lalu membawanya pergi hingga kami sampai di Sadd ash-Shahba', dan dia telah suci dari haidh, maka beliau menikahinya. Kemudian beliau membuat hais di atas tikar kulit kecil, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Panggillah orang-orang yang ada di sekitarmu.” Maka itulah walimah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan Shafiyah. Kemudian kami berangkat menuju Madinah. Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melipat kain di belakangnya untuk Shafiyah, lalu beliau duduk di samping untanya dan meletakkan lututnya, kemudian Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau untuk naik. Kami berjalan hingga ketika kami telah mendekati Madinah, beliau melihat gunung Uhud lalu bersabda: “Ini adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” Kemudian beliau melihat Madinah lalu berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku menjadikan apa yang ada di antara dua bukit batu (Madinah) sebagai tanah haram sebagaimana Ibrahim menjadikan Mekkah sebagai tanah haram. Ya Allah, berkahilah mereka dalam mud dan sha' mereka.”
Bab : Pertolongan orang-orang lemah dan saleh dalam perang
Sa'd (radhiyallahu 'anhu) melihat bahwa ia memiliki keutamaan atas orang-orang di bawahnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah kalian ditolong dan diberi rezeki kecuali karena orang-orang lemah di antara kalian?”
Bab : Janganlah mengatakan bahwa si Fulan adalah syahid
Rasulullah ﷺ dan kaum musyrikin bertemu lalu berperang. Ketika Rasulullah ﷺ kembali ke pasukannya dan mereka (kaum musyrikin) kembali ke pasukan mereka, ada seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang tidak membiarkan seorang pun dari mereka yang terpisah melainkan ia mengikutinya dan menebasnya dengan pedangnya. Mereka berkata, “Tidak ada seorang pun yang bertugas pada hari ini seperti fulan.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya dia termasuk penghuni Neraka.” Seorang laki-laki dari kaum itu berkata, “Aku akan menemaninya.”
Maka ia keluar bersamanya; setiap kali ia berhenti, ia ikut berhenti, dan setiap kali ia bergegas, ia ikut bergegas. Kemudian laki-laki itu terluka parah. Ia ingin segera mati, maka ia tancapkan mata pedangnya ke tanah dan ujungnya di antara kedua dadanya, lalu ia bersandar pada pedangnya dan bunuh diri. Laki-laki itu (yang mengikutinya) kembali kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.” Beliau bertanya, “Apa yang terjadi?” Ia menjawab, “Tentang laki-laki yang engkau sebutkan tadi bahwa dia termasuk penghuni Neraka. Manusia merasa heran terhadap hal itu, dan aku berkata, ‘Aku akan mengungkapkan hakikatnya untuk kalian.’ Maka aku pergi mencarinya. Dia terluka parah, lalu ia segera mati dengan menancapkan mata pedangnya ke tanah dan ujungnya di antara kedua dadanya, kemudian ia bersandar di atas pedangnya dan bunuh diri.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda saat itu, “Sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan penghuni surga yang tampak di hadapan manusia, padahal dia termasuk penghuni Neraka; dan ada seseorang yang beramal dengan amalan penghuni Neraka yang tampak di hadapan manusia, padahal dia termasuk penghuni Surga.”
Bab : Anjuran untuk memanah
Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) melewati sekelompok orang dari Bani Aslam yang sedang berlatih memanah. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, 'Wahai Bani Isma'il, panahlah, karena sesungguhnya bapak kalian adalah seorang pemanah. Panahlah, dan aku bersama Bani fulan.' Maka salah satu dari kedua kelompok itu menahan tangan mereka (berhenti memanah). Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, 'Mengapa kalian tidak memanah?' Mereka menjawab, 'Bagaimana kami bisa memanah sedangkan engkau bersama mereka?' Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, 'Panahlah, karena aku bersama kalian semua.'
Bab : Perisai, dan berlindung dengan perisai sahabatnya
Abu Talhah dan Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) berlindung dengan satu perisai. Abu Talhah adalah pemanah yang baik, dan apabila ia melepaskan (anak panahnya), Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) akan memperhatikan sasaran anak panahnya.
Ahmad bin Muhammad menceritakan kepada kami, Abdullah mengabarkan kepada kami, Al-Awza'i mengabarkan kepada kami, dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Abu Thalhah berlindung bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan satu perisai. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang baik, dan apabila ia melempar panah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan mengangkat badannya untuk melihat tempat jatuhnya anak panahnya.
Bab : Perisai (kulit)
Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) masuk ke rumahku ketika dua orang budak perempuan sedang bernyanyi di dekatku dengan nyanyian Bu'ath. Beliau berbaring di tempat tidur dan memalingkan wajahnya. Abu Bakar masuk, lalu menegurku dan berkata: “Seruling setan di dekat Rasulullah?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda: “Biarkan keduanya.” Ketika Abu Bakar lengah, aku memberi isyarat kepada keduanya, lalu mereka keluar. Saat itu adalah hari raya, orang-orang hitam bermain dengan perisai dan tombak. Entah aku yang meminta Rasulullah, atau beliau bersabda: “Apakah engkau ingin melihat?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau lalu menempatkanku di belakangnya, pipiku menempel di pipinya, dan beliau bersabda: “Teruskan, wahai Bani Arfida!” Hingga ketika aku bosan, beliau bertanya: “Apakah itu cukup bagimu?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu pergilah.” Ahmad berkata dari Ibnu Wahb: “Ketika ia lengah.”
Bab : Barangsiapa menggantungkan pedangnya di pohon saat bepergian di waktu qailulah (tidur siang)
Bahwa ia pergi bersama Rasulullah ﷺ menuju Najd untuk mengikuti ghazwa (peperangan). Ketika Rasulullah ﷺ kembali, ia pun kembali bersama beliau. Waktu qailulah (tidur siang) menjumpai mereka di sebuah lembah yang banyak pohon berduri. Rasulullah ﷺ turun dan orang-orang berpencar untuk berteduh di bawah pohon-pohon. Rasulullah ﷺ beristirahat di bawah sebatang pohon dan menggantungkan pedangnya padanya. Kami semua tertidur, lalu tiba-tiba kami mendengar Rasulullah ﷺ memanggil kami. (Kami terbangun) dan melihat seorang badui di dekat beliau. Beliau bersabda, 'Badui ini mencabut pedangku saat aku tidur, dan ketika aku terbangun, kudapati pedang itu terhunus di tangannya, dan ia menantangku, "Siapa yang akan menyelamatkanmu dariku?" Aku menjawab tiga kali, "Allah."' Nabi ﷺ tidak menghukumnya, tetapi duduk.
Bab : Barangsiapa yang tidak menganggap boleh mematahkan senjata ketika kematian
Telah menceritakan kepada kami `Amr bin `Abbas, telah menceritakan kepada kami `Abdur Rahman, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari `Amr bin Al-Harith, ia berkata: Nabi ﷺ tidak meninggalkan sesuatu pun kecuali senjata, bagal putih, dan sebidang tanah yang beliau jadikan sedekah.
Bab : Apa yang dikatakan tentang tombak
Abdullah bin Yusuf menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami, dari Abu an-Nadhr, mantan budak Umar bin Ubaidillah, dari Nafi', mantan budak Abu Qatadah al-Anshari, dari Abu Qatadah (radhiyallahu 'anhu) bahwa ia pernah bersama Rasulullah ﷺ. Ketika mereka berada di sebagian jalan menuju Makkah, ia tertinggal bersama beberapa sahabatnya yang sedang berihram, sedangkan ia tidak berihram. Ia melihat seekor keledai liar, lalu ia menaiki kudanya dan meminta kepada sahabat-sahabatnya untuk memberikan cambuknya, tetapi mereka menolak. Kemudian ia meminta tombaknya, tetapi mereka menolak. Maka ia mengambilnya sendiri, lalu menyerang keledai itu dan membunuhnya. Sebagian sahabat Nabi ﷺ memakannya, dan sebagian lagi menolak. Ketika mereka sampai kepada Rasulullah ﷺ, mereka bertanya kepadanya tentang hal itu. Beliau bersabda, “Itu hanyalah makanan yang Allah berikan kepada kalian.”
Dan dari Zaid bin Aslam, dari 'Atha' bin Yasar, dari Abu Qatadah tentang keledai liar, seperti hadits Abu an-Nadhr. Beliau bersabda, “Apakah kalian memiliki sesuatu dari dagingnya?”
Bab : Apa yang dikatakan tentang baju besi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan gamisnya dalam perang
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saat berada di dalam tenda (pada perang Badar) berdoa, „Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perjanjian-Mu dan janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau kehendaki, maka Engkau tidak akan disembah lagi setelah hari ini.“ Abu Bakr memegang tangannya dan berkata, „Cukuplah engkau, wahai Rasulullah! Engkau telah mendesak Tuhanmu.“ Beliau saat itu mengenakan baju besi. Beliau keluar sambil membacakan:
„Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan berpaling ke belakang. Sebenarnya, hari Kiamat itulah janji mereka, dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.“ (54:45-46)
Khalid berkata bahwa hal itu terjadi pada perang Badar.
Muhammad ibn al-Mutsanna menceritakan kepadaku, 'Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, Khalid menceritakan kepada kami, dari 'Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika berada di dalam kubah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan perjanjian-Mu dan janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau kehendaki, Engkau tidak akan disembah setelah hari ini.”
Abu Bakr memegang tangannya dan berkata: “Cukuplah bagimu wahai Rasulullah, engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Tuhanmu.” Dan beliau sedang memakai baju besi, lalu beliau keluar sambil membaca:
{Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Sebenarnya Hari Kiamat itulah waktu yang dijanjikan kepada mereka, dan Hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.} (Al-Qamar 54:45-46)
Wuhayb berkata: Khalid menceritakan kepada kami pada hari Perang Badar.
Telah menceritakan kepadaku Muhammad ibn al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari 'Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika berada di dalam kubah (kemah): “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan perjanjian-Mu dan janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau menghendaki, maka Engkau tidak akan disembah lagi setelah hari ini.” Maka Abu Bakr memegang tangan beliau dan berkata: “Cukuplah bagimu wahai Rasulullah, sungguh engkau telah mendesak Rabbmu.” Saat itu beliau mengenakan baju besi. Kemudian beliau keluar sambil membaca:
سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ * بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ
“Golongan itu akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang; sebenarnya Hari Kiamat itulah janji mereka, dan Hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.”
Dan Wuhaib berkata: Khalid menceritakan kepada kami pada hari Badar.
Bab : Apa yang disebutkan tentang pisau
Aku melihat Nabi (صلى الله عليه وسلم) makan dari daging pundak (kambing) sambil memotongnya, kemudian beliau dipanggil untuk shalat, lalu beliau shalat tanpa berwudhu lagi.
Az-Zuhri meriwayatkan: seperti di atas, dan beliau menambahkan bahwa Nabi (صلى الله عليه وسلم) meletakkan pisaunya.
Bab : Perang melawan Ar-Rum (Romawi Timur)
'Umair bin Al-Aswad Al-'Anasi menceritakan bahwa ia datang kepada 'Ubadah bin Ash-Shamit yang sedang singgah di pantai Himsh, dalam sebuah bangunan miliknya, dan bersamanya Umm Haram. 'Umair berkata: Umm Haram mengabarkan kepada kami bahwa ia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Pasukan pertama dari umatku yang berperang di laut, pasti masuk surga.” Umm Haram berkata: Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk mereka?' Beliau menjawab, 'Kamu termasuk mereka.' Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Pasukan pertama dari umatku yang menyerang kota Kaisar, diampuni dosa-dosa mereka.” Aku bertanya, 'Apakah aku termasuk mereka, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Tidak.'
Bab : Perang melawan orang-orang Yahudi
Rasulullah (ﷺ) bersabda, “Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi hingga salah seorang dari mereka bersembunyi di balik batu. Batu itu akan berkata, ‘Wahai `Abdullah (yaitu hamba Allah)! Di belakangku ada seorang Yahudi, bunuhlah dia.’”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi, sampai salah seorang dari mereka bersembunyi di balik batu, lalu batu itu berkata: Wahai hamba Allah! Di belakangku ada seorang Yahudi, maka bunuhlah dia.”
Bab : Barangsiapa mengatur barisan sahabatnya pada saat kekalahan, turun dari kendaraannya, dan memohon pertolongan Allah
Seorang laki-laki bertanya kepada Al-Bara', “Wahai Abu 'Umara! Apakah kalian semua melarikan diri pada hari (perang) Hunain?” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah! Rasulullah ﷺ tidak melarikan diri, tetapi para pemuda sahabatnya yang tidak bersenjata melewati para pemanah dari suku Hawazin dan Bani Nasr yang anak panahnya hampir tidak pernah meleset, lalu mereka memanahnya dengan panah yang hampir tidak pernah meleset. Maka kaum muslimin mundur menuju Nabi ﷺ yang sedang menunggang bagal putihnya, yang dituntun oleh sepupunya Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib. Nabi ﷺ turun dan memohon pertolongan kepada Allah, kemudian bersabda, ‘Aku adalah Nabi, tidak berdusta; aku adalah putra Abdul Muthalib.’ Lalu beliau mengatur barisan para sahabatnya.”
Bab : Doa untuk mengalahkan dan mengguncang orang-orang musyrik
Ketika terjadi Perang Ahzab, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa, "Ya Allah, penuhi rumah-rumah dan kuburan-kuburan mereka dengan api, karena mereka telah menyibukkan kami dari salat al-wustha (salat Asar) hingga matahari terbenam."