Bab : Bohong dalam perang
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang (bersedia) untuk (membunuh) Ka'b bin Al-Asyraf? Sungguh dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya." Muhammad bin Maslamah berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau suka jika aku membunuhnya?" Beliau menjawab, "Ya." Maka ia mendatanginya dan berkata, "Orang ini (maksudnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam) telah membebani kami dan meminta sedekah kepada kami." Ka'b menjawab, "Demi Allah, kalian akan bosan dengannya." Muhammad berkata kepadanya, "Kami telah mengikutinya, dan kami tidak suka meninggalkannya sampai kami melihat bagaimana akhir urusannya." Ia terus berbicara dengannya hingga ia mendapatkan kesempatan untuk membunuhnya.
Bab : Barangsiapa yang tidak mampu duduk dengan mantap di atas kuda
Rasulullah ﷺ tidak pernah menghindar dariku sejak aku memeluk Islam, dan setiap kali beliau melihatku, beliau menyambutku dengan senyuman. Suatu kali aku mengadu kepadanya bahwa aku tidak bisa duduk dengan mantap di atas kuda. Beliau menepuk dadaku dengan tangannya dan berdoa, «Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikanlah dia orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk» (اللهم ثبته واجعله هادياً مهدياً).
Bab : Yang dibenci dari perselisihan dan perbedaan dalam perang, dan hukuman orang yang durhaka kepada imamnya.
Diriwayatkan oleh Yahya: Wakil menceritakan kepada kami dari Syu'bah, dari Sa'id bin Abu Burdah, dari ayahnya, dari kakeknya: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu'adz dan Abu Musa ke Yaman, lalu beliau bersabda: “Permudahlah dan janganlah mempersulit, berilah kabar gembira dan janganlah membuat lari, dan bersatu padulah serta janganlah berselisih.”
Bab : Apabila penduduk merasa takut di malam hari
Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling tampan, paling dermawan, dan paling pemberani di antara manusia. Suatu malam penduduk Madinah merasa takut karena mendengar suara. Maka Nabi ﷺ menemui mereka dengan menunggang kuda milik Abu Talhah yang tidak berpelana, sambil menyandang pedangnya. Beliau bersabda, “Jangan takut, jangan takut.” Kemudian beliau bersabda, “Aku mendapatinya (kuda itu) seperti lautan (sangat kencang).”
Bab : Berteriak: 'Ya Sabahah!'
Aku keluar dari Madinah menuju Al-Ghaba. Ketika aku tiba di jalan setapak pegunungan Al-Ghaba, seorang budak milik 'Abdur-Rahman bin 'Auf menemuiku. Aku berkata kepadanya, 'Celakalah engkau! Apa yang membawamu ke sini?' Dia menjawab, 'Unta-unta betina Nabi ﷺ telah diambil.' Aku bertanya, 'Siapa yang mengambilnya?' Dia berkata, 'Ghatafan dan Fazara.' Maka aku berteriak tiga kali, 'Ya Sabahah! Ya Sabahah!' dengan suara yang sangat keras sehingga orang-orang di antara dua gunung (Madinah) mendengarku. Kemudian aku bergegas hingga aku bertemu mereka setelah mereka mengambil unta-unta itu. Aku mulai memanah mereka seraya berkata, 'Aku adalah putra Al-Akwa'; dan hari ini binasalah orang-orang yang hina!' Maka aku selamatkan unta-unta itu dari mereka sebelum mereka (para perampok) sempat minum air. Ketika aku kembali sambil menggiring unta-unta tersebut, Nabi ﷺ menemuiku. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, orang-orang itu kehausan dan aku telah mencegah mereka minum, maka utuslah orang-orang untuk mengejar mereka.' Nabi ﷺ bersabda, 'Wahai putra Al-Akwa', engkau telah menguasai (musuhmu), maka maafkanlah (mereka). (Selain itu) orang-orang itu sekarang sedang dijamu oleh kaum mereka.'
Bab : Ucapan: “Ambillah! Aku adalah putra si fulan.”
Seorang laki-laki bertanya kepada Al-Bara', “Wahai Abu 'Umara! Apakah kalian melarikan diri pada hari (perang) Hunain?” Al-Bara' menjawab sambil aku mendengarkan, “Adapun Rasulullah (صلى الله عليه وسلم), beliau tidak melarikan diri pada hari itu. Abu Sufyan bin Al-Harits sedang memegang tali kekang baghal beliau. Ketika kaum musyrikin menyerang beliau, beliau turun dan berseru, ‘Akulah Nabi, tidak ada dusta; aku adalah putra Abdul Muththalib.’ Pada hari itu tidak terlihat seorang pun yang lebih berani daripada Nabi.”
Bab : Jika musuh siap menerima keputusan seorang Muslim
Ketika Bani Quraiza siap menerima keputusan Sa'd, Rasulullah ﷺ mengutus seseorang untuk memanggil Sa'd yang berada di dekatnya. Sa'd datang dengan mengendarai keledai, dan ketika dia mendekat, Rasulullah ﷺ bersabda (kepada kaum Ansar): 'Berdirilah untuk pemimpin kalian.' Kemudian Sa'd datang dan duduk di samping Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda kepadanya: 'Mereka ini siap menerima keputusanmu.' Sa'd berkata: 'Aku memutuskan bahwa para pejuang mereka dibunuh dan anak-anak serta wanita-wanita mereka ditawan.' Kemudian Nabi ﷺ bersabda: 'Sungguh, engkau telah memutuskan di antara mereka dengan keputusan Raja (Allah).'
Bab : Membunuh Tawanan
Rasulullah ﷺ masuk (Makkah) pada tahun penaklukan (Fathu Makkah) dengan mengenakan helm di atas kepalanya. Setelah beliau melepasnya, seorang laki-laki datang dan berkata, 'Ibnu Khatal bergantung pada tirai Ka'bah.' Maka beliau bersabda, 'Bunuhlah dia.'
Bab : Apakah seseorang menyerahkan diri (kepada musuh), dan orang yang tidak menyerahkan diri, dan orang yang shalat dua rakaat ketika akan dibunuh
Rasulullah ﷺ mengirim sepuluh orang sebagai mata-mata di bawah pimpinan 'Ashim bin Tsabit al-Anshari, kakek dari 'Ashim bin Umar. Mereka berangkat hingga sampai di Hada', antara 'Usfan dan Makkah. Kabar mereka sampai kepada salah satu cabang kabilah Hudzail yang disebut Bani Lihyan. Maka sekitar dua ratus orang yang semuanya pemanah bergegas mengikuti jejak mereka hingga menemukan tempat mereka memakan kurma yang mereka bawa dari Madinah. Mereka berkata, 'Ini adalah kurma Yatsrib (Madinah).' Lalu mereka terus mengikuti jejak mereka.
Ketika 'Ashim dan para sahabatnya melihat mereka, mereka berlindung di tempat yang tinggi. Orang-orang kafir itu mengepung mereka dan berkata, 'Turunlah dan serahkan diri kalian, maka kalian mendapat janji dan perjanjian, dan kami tidak akan membunuh seorang pun dari kalian.' 'Ashim bin Tsabit, pemimpin pasukan itu, berkata, 'Adapun aku, demi Allah, aku tidak akan turun dalam perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikanlah kabar kami kepada Nabi-Mu.' Maka mereka memanah mereka hingga 'Ashim terbunuh bersama enam orang lainnya. Lalu turunlah tiga orang dengan menerima janji tersebut, yaitu Khubaib al-Anshari, Ibnu Datsinah, dan seorang lagi. Ketika mereka ditangkap, mereka melepaskan tali busur panah mereka dan mengikat mereka. Orang ketiga berkata, 'Ini adalah pengkhianatan pertama. Demi Allah, aku tidak akan pergi bersamamu. Sungguh, pada orang-orang (yang gugur) ini terdapat teladan yang baik bagiku.' Dia menginginkan kematian. Maka mereka menyeretnya dan memaksanya untuk ikut, tetapi ia menolak, lalu mereka membunuhnya. Mereka membawa Khubaib dan Ibnu Datsinah hingga mereka menjual keduanya di Makkah setelah perang Badar. Khubaib dibeli oleh anak-anak Al-Harits bin 'Amir bin Naufal bin 'Abd Manaf. Khubaib-lah yang telah membunuh Al-Harits bin 'Amir pada perang Badar. Maka Khubaib tetap menjadi tawanan di sisi mereka.
'Ubaidullah bin 'Iyyad mengabarkan kepadaku bahwa putri Al-Harits mengabarkan kepadanya, 'Ketika mereka berkumpul (untuk membunuhnya), ia meminjam pisau cukur dariku untuk mencukur bulu kemaluannya, lalu aku memberikannya. Kemudian ia mengambil anakku yang sedang lalai. Aku melihatnya meletakkan anakku di atas pahanya, sedang pisau di tangannya. Aku sangat terkejut sehingga Khubaib mengetahui kegelisahanku dari wajahku, lalu ia berkata, "Apakah engkau takut aku akan membunuhnya? Tidak, aku tidak akan pernah melakukan itu." Demi Allah, aku tidak pernah melihat tawanan yang lebih baik daripada Khubaib. Demi Allah, pada suatu hari aku melihatnya memakan setangkai anggur di tangannya, padahal ia terikat besi, dan tidak ada buah di Makkah saat itu.' Putri Al-Harits biasa berkata, 'Itu adalah rezeki dari Allah yang diberikan kepada Khubaib.'
Ketika mereka membawanya keluar dari tanah haram untuk membunuhnya di luar batasnya, Khubaib berkata kepada mereka, 'Biarkanlah aku melaksanakan shalat dua rakaat.' Mereka membiarkannya. Maka ia shalat dua rakaat, kemudian berkata, 'Kalau bukan karena aku khawatir kalian mengira aku takut, niscaya akan aku perpanjang. Ya Allah, hitunglah jumlah mereka dan bunuhlah mereka satu per satu.' Kemudian ia bersenandung, 'Dan ini di jalan Allah; jika Dia menghendaki, Dia akan memberkahi anggota-anggota tubuh yang terpotong dari jasad yang tercabik-cabik.' Lalu anak Al-Harits membunuhnya. Maka Khubaib-lah yang mencontohkan shalat dua rakaat bagi setiap muslim yang dibunuh dalam tawanan.
Allah mengabulkan doa 'Ashim bin Tsabit pada hari ia terbunuh. Nabi ﷺ mengabarkan kepada para sahabatnya tentang kabar mereka dan apa yang menimpa mereka. Kemudian sebagian orang kafir Quraisy ketika mendengar bahwa 'Ashim terbunuh, mereka mengirim orang-orang untuk mengambil sebagian darinya (kepalanya) yang dengannya ia dapat dikenali. Karena 'Ashim telah membunuh salah seorang pemuka mereka pada perang Badar. Maka Allah mengirim sekumpulan lebah seperti awan yang menaungi 'Ashim, melindunginya dari utusan mereka, sehingga mereka tidak dapat memotong sedikit pun dari dagingnya.
Bab : Tebusan orang-orang musyrik (Al-Mushrikun)
Beberapa orang dari kalangan Ansar meminta izin kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah kami untuk menggugurkan tebusan keponakan kami, Abbas.” Beliau ﷺ bersabda, “Janganlah kalian meninggalkan satu dirham pun darinya.”
Bab : Orang harbi apabila masuk ke negeri Islam tanpa jaminan keamanan
Seorang mata-mata dari kalangan orang musyrik datang kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau sedang dalam perjalanan. Mata-mata itu duduk di dekat para sahabat beliau, berbincang-bincang, kemudian pergi. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Cari dan bunuh dia." Maka aku pun membunuhnya. Nabi Muhammad SAW lalu memberikan kepadaku barang-barang milik mata-mata itu (sebagai rampasan tambahan).
Bab : Bolehkah seseorang memberi syafaat kepada ahlul dzimmah atau berinteraksi dengan mereka?
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Hari Kamis! Dan apa itu hari Kamis?" Kemudian beliau menangis hingga air matanya membasahi kerikil. Beliau berkata, "Pada hari Kamis penyakit Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam semakin parah, dan beliau bersabda, "Bawakanlah aku alat tulis, aku akan menuliskan untuk kalian sebuah catatan yang setelah itu kalian tidak akan sesat selama-lamanya." Maka mereka berselisih, dan tidak patut berselisih di hadapan seorang nabi. Mereka berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengigau." Beliau bersabda, "Biarkanlah aku, karena keadaanku sekarang lebih baik daripada apa yang kalian serukan kepadaku." Beliau berwasiat ketika akan wafat dengan tiga hal: "Keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, dan berilah hadiah kepada utusan-utusan sebagaimana aku memberi hadiah kepada mereka." Dan aku lupa yang ketiga."
Ya'qub bin Muhammad berkata, "Aku bertanya kepada al-Mughirah bin Abdurrahman tentang Jazirah Arab, lalu ia menjawab, "Jazirah Arab itu meliputi Makkah, Madinah, Yamamah, dan Yaman." Ya'qub berkata, "Dan al-Arj adalah awal Tihamah.""
Bab : Berdandan sebelum menerima delegasi
Umar melihat sebuah jubah sutra (istabraq) yang dijual di pasar, lalu ia membawanya kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, belilah jubah ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan untuk menerima delegasi-delegasi.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Sesungguhnya ini hanyalah pakaian bagi orang yang tidak mendapat bagian (di akhirat), atau tidaklah memakainya kecuali orang yang tidak mendapat bagian.” Setelah beberapa waktu, Nabi ﷺ mengirimkan kepadanya jubah dari brokat (dibaj). Maka Umar datang membawanya kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah berkata bahwa ini hanyalah pakaian bagi orang yang tidak mendapat bagian, atau yang memakainya hanyalah orang yang tidak mendapat bagian, lalu engkau mengirimkan ini kepadaku?” Beliau menjawab, “Juallah, atau gunakanlah untuk memenuhi sebagian kebutuhanmu.”
Bab : Cara menyampaikan Islam kepada seorang anak laki-laki
Umar dan sekelompok sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menuju Ibnu Saiyad. Mereka mendapatinya sedang bermain bersama anak-anak di dekat bukit-bukit Bani Maghala. Saat itu Ibnu Saiyad hampir baligh. Dia tidak menyadari (kehadiran Nabi) sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengusap punggungnya dengan tangan beliau lalu bersabda, "Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?" Ibnu Saiyad menatapnya lalu berkata, "Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan untuk orang-orang yang buta huruf."
Kemudian Ibnu Saiyad bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, "Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya." Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apa yang engkau lihat?" Ibnu Saiyad menjawab, "Aku didatangi oleh orang yang jujur dan pendusta." Nabi bersabda, "Urusanmu telah dikacaukan." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menambahkan, "Sesungguhnya aku telah menyimpan sesuatu untukmu." Ibnu Saiyad berkata, "Itu adalah Ad-Dukh." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Celaka kamu! Kamu tidak akan melebihi kadar dirimu." Maka Umar berkata, "Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal lehernya." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika dia benar-benar dia (yaitu Dajjal), maka engkau tidak akan dapat menguasainya. Dan jika dia bukan dia, maka tidak ada kebaikan bagimu dalam membunuhnya."
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah mengabarkan kepadaku Salim bin Abdullah, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwasanya ia mengabarkan kepadanya bahwa Umar pergi bersama sekelompok sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menuju Ibnu Sayyad, hingga mereka mendapatinya sedang bermain dengan anak-anak kecil di dekat benteng Bani Maghala. Saat itu Ibnu Sayyad hampir baligh. Dia tidak merasakan (kehadiran mereka) hingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memukul punggungnya dengan tangannya, kemudian beliau bersabda: “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” Maka Ibnu Sayyad menatapnya lalu berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan orang-orang yang buta huruf.” Kemudian Ibnu Sayyad berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang kamu lihat?” Ibnu Sayyad berkata: “Yang datang kepadaku adalah orang yang jujur dan pendusta.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Urusanmu telah tercampur.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku telah menyembunyikan sesuatu untukmu.” Ibnu Sayyad berkata: “Ia adalah Ad-Dukh.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tersesatlah kamu, kamu tidak akan pernah melampaui kadar kemampuanmu.” Umar berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal lehernya.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia benar-benar dia (Dajjal), maka kamu tidak akan pernah diberi kekuasaan atasnya, dan jika dia bukan dia, maka tidak ada kebaikan bagimu untuk membunuhnya.”
Bab : Jika suatu kaum memeluk Islam di negeri perang dan mereka memiliki harta dan tanah, maka harta dan tanah itu adalah milik mereka.
Aku bertanya kepada Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) saat hajinya, 'Wahai Rasulullah, di manakah engkau akan singgah besok?' Beliau menjawab, 'Apakah `Aqil meninggalkan rumah untuk kita?' Kemudian beliau bersabda, 'Besok kita akan singgah di Khaif Bani Kinanah, yaitu Al-Muhassab, di mana orang-orang musyrik Quraisy mengadakan sumpah untuk tetap di atas kekufuran, yaitu Bani Kinanah bersekutu dengan Quraisy menentang Bani Hasyim dengan ketentuan bahwa mereka tidak akan berhubungan dengan anggota Bani Hasyim dan tidak memberi mereka perlindungan.' (Az-Zuhri berkata, 'Khaif artinya lembah.')
Bab : Pencatatan orang-orang oleh imam
Nabi (ﷺ) bersabda kepada kami, “Tuliskanlah untukku nama-nama orang yang telah menyatakan masuk Islam.” Maka kami menuliskan seribu lima ratus orang. Lalu kami bertanya, “Apakah kami harus takut (kepada orang-orang kafir) padahal kami berjumlah seribu lima ratus?” Sungguh, kami menyaksikan diri kami diuji dengan cobaan-cobaan yang buruk sehingga seseorang harus salat sendirian dalam keadaan takut.
Diriwayatkan dari Al-A'masy: “Kami (mencatat kaum muslimin) dan mendapati mereka berjumlah lima ratus.” Dan Abu Muawiyah berkata, “Antara enam ratus sampai tujuh ratus.”
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tulislah untukku nama-nama orang yang telah mengucapkan Islam di antara manusia." Maka kami menulis untuknya seribu lima ratus orang. Kami berkata, "Apakah kami takut sedangkan kami berjumlah seribu lima ratus?" Namun sungguh kami telah diuji, hingga seseorang shalat sendirian dalam keadaan takut.
(Dalam riwayat lain) 'Aban menceritakan kepada kami dari Abu Hamzah dari Al-A'masy, "Kami mendapati mereka berjumlah lima ratus." Abu Mu'awiyah berkata, "Antara enam ratus sampai tujuh ratus."
Bab : Allah menolong agama ini dengan seorang yang fasik
Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu peperangan, lalu beliau berkata tentang seorang laki-laki yang mengaku Islam, “Orang ini termasuk penghuni neraka.” Ketika pertempuran terjadi, laki-laki itu bertempur dengan sangat gigih, lalu ia terluka. Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, orang yang engkau katakan termasuk penghuni neraka itu telah bertempur dengan gigih hari ini dan mati.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ke neraka.” Sebagian orang hampir ragu. Ketika mereka dalam keadaan demikian, dikatakan bahwa ia belum mati, tetapi luka parah. Ketika malam tiba, ia tidak sabar menahan luka, lalu ia bunuh diri. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diberitahu tentang hal itu, lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar! Aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau memerintahkan Bilal untuk mengumumkan kepada manusia: “Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim, dan sesungguhnya Allah menolong agama ini dengan seorang yang fasik.”
Bab : Orang yang membagi ghanimah pada saat ghazwah dan safarnya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan umrah dari Al-Ji'ranah, yaitu ketika beliau membagi ghanimah (rampasan perang) Hunain.