Bab : Berangkat pada akhir bulan
Kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ ketika masih tersisa lima malam dari bulan Dzul Qa'dah, dan kami tidak berniat kecuali untuk haji. Ketika kami mendekati Makkah, Rasulullah ﷺ memerintahkan orang yang tidak membawa hadyu (hewan kurban) agar apabila ia telah bertawaf di Ka'bah dan bersa'i antara Shafa dan Marwah, ia bertahallul (mengakhiri ihram). `Aisyah berkata, "Pada hari Nahr (Idul Adha), daging sapi dibawa kepada kami. Aku bertanya, 'Apa ini?' Mereka menjawab, 'Rasulullah ﷺ menyembelih kurban untuk istri-istrinya.'" Yahya berkata, "Aku menyebutkan hadits ini kepada Al-Qasim bin Muhammad, lalu dia berkata, 'Demi Allah, dia (Aisyah) telah menyampaikan hadits ini kepadamu sebagaimana adanya.'"
Bab : Bepergian di Bulan Ramadan
Nabi (ﷺ) berangkat pada bulan Ramadan. Beliau berpuasa hingga tiba di sebuah tempat bernama Kadid, lalu berbuka.
Bab : Berpamitan
Ibnu Wahb berkata: 'Amr mengabarkan kepadaku, dari Bukair, dari Sulaiman bin Yasar, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim kami dalam suatu ekspedisi militer dan bersabda kepada kami: 'Jika kalian menjumpai si Fulan dan si Fulan' – beliau menyebut dua orang Quraisy – 'maka bakarlah keduanya dengan api.' Ia berkata: Kemudian kami mendatanginya untuk berpamitan ketika kami hendak berangkat, beliau bersabda: 'Sesungguhnya aku pernah memerintahkan kalian untuk membakar si Fulan dan si Fulan dengan api, dan sesungguhnya tidak ada yang menyiksa dengan api kecuali Allah. Maka jika kalian menangkap keduanya, bunuhlah keduanya.'
Bab : Sumpah setia untuk tidak lari dalam peperangan
Musa bin Isma'il menceritakan kepada kami, Juwayriyah, dari Nafi', ia berkata: Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: Kami kembali pada tahun berikutnya, tidak ada dua orang pun dari kami yang sepakat tentang pohon tempat kami berbaiat di bawahnya; itu adalah rahmat dari Allah. Aku bertanya kepada Nafi': untuk hal apa mereka dibaiat? Apakah untuk mati? Ia menjawab: Tidak, mereka dibaiat untuk bersabar.
Musa bin Isma'il menceritakan kepada kami, Juwaibiriyah menceritakan kepada kami, dari Nafi', bahwa ia berkata: Ibnu Umar (radhiyallahu 'anhuma) berkata: 'Kami kembali pada tahun berikutnya, dan tidak ada dua orang dari kami yang sepakat tentang pohon tempat kami berbai'at di bawahnya; itu adalah rahmat dari Allah.' Aku bertanya kepada Nafi': 'Untuk hal apa beliau mengambil bai'at mereka? Untuk mati?' Dia menjawab: 'Tidak, untuk kesabaran.'
Kami kembali pada tahun berikutnya, dan tidak ada dua orang pun dari kami yang sepakat tentang pohon yang di bawahnya kami berbai'at; itu adalah rahmat dari Allah. Aku bertanya kepada Nafi': 'Atas dasar apa beliau membai'at mereka? Atas kematian?' Dia menjawab: 'Tidak, beliau membai'at mereka atas kesabaran.'
Bab : Bab: Apabila Nabi ﷺ tidak berperang di awal siang, beliau mengakhirkan peperangan hingga matahari condong.
Salim Abu An-Nadr, budak yang dimerdekakan oleh 'Umar bin 'Ubaidullah yang juga sekretarisnya, berkata: 'Abdullah bin Abi Aufa menulis surat kepadanya (yaitu 'Umar), lalu aku membacanya bahwa Rasulullah ﷺ pada sebagian harinya ketika beliau bertemu dengan musuh, beliau menunggu hingga matahari condong. Kemudian beliau berdiri di hadapan orang-orang dan bersabda: “Wahai manusia! Janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh, dan mohonlah keselamatan kepada Allah. Tetapi jika kalian bertemu mereka, bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah naungan pedang-pedang.” Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, Yang menurunkan Kitab, Yang menjalankan awan, dan Yang mengalahkan golongan-golongan (Al-Ahzab), kalahkanlah mereka dan tolonglah kami mengalahkan mereka.”
Bab : Meminta izin kepada imam
Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma berkata: Aku ikut serta dalam suatu ghazwah (perang) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menemuiku ketika aku sedang menunggang unta kami yang digunakan untuk mengairi (ladang), dan unta itu telah kelelahan sehingga hampir tidak bisa berjalan. Beliau bertanya kepadaku: "Ada apa dengan untamu?" Aku menjawab: "Ia kelelahan." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pergi ke belakang unta itu, membentaknya, dan mendoakannya, sehingga unta itu berjalan di depan unta-unta yang lain. Kemudian beliau bertanya kepadaku: "Bagaimana menurutmu untamu sekarang?" Aku menjawab: "Sekarang baik saja, ia telah mendapat berkahmu." Beliau bersabda: "Maukah engkau menjualnya kepadaku?" Aku merasa malu, padahal kami tidak punya unta pengairi selain itu, maka aku menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Kalau begitu juallah kepadaku." Maka aku menjualnya kepada beliau dengan syarat aku boleh menungganginya sampai aku tiba di Madinah. Kemudian aku berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah pengantin baru," lalu aku meminta izin kepada beliau (untuk pulang). Beliau mengizinkanku, maka aku berangkat mendahului orang-orang menuju Madinah. Ketika aku tiba di Madinah, pamanku (dari ibu) menemuiku dan bertanya tentang unta itu, lalu kuberitahukan kepadanya semua yang telah kulakukan, maka ia mencelaku.
Dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya kepadaku ketika aku meminta izin: "Apakah engkau menikah dengan gadis atau janda?" Aku menjawab: "Aku menikah dengan janda." Beliau bersabda: "Mengapa tidak engkau nikahi seorang gadis yang bisa bermain denganmu dan engkau bisa bermain dengannya?" Aku berkata: "Wahai Rasulullah, ayahku telah wafat (atau gugur sebagai syahid) dan aku mempunyai saudara-saudara perempuan yang masih kecil, maka aku tidak suka menikah dengan gadis yang seumur mereka, yang tidak bisa mendidik mereka dan tidak bisa mengurus mereka. Sebab itu aku menikah dengan seorang janda agar ia bisa mengurus mereka dan mendidik mereka."
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, keesokan harinya aku pergi menghadap beliau dengan membawa unta itu, lalu beliau memberikan uang harganya dan mengembalikan unta itu kepadaku. Al-Mughirah berkata: Ini adalah perkara yang baik dalam pandangan kami, kami tidak melihatnya sebagai suatu masalah.
Bab : Upah untuk berperang atas nama orang lain
Al-Humaydi menceritakan kepada kami: Sufyan berkata: Aku mendengar Malik bin Anas bertanya kepada Zayd bin Aslam, lalu Zayd berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: Aku memberi seekor kuda di jalan Allah, lalu aku melihatnya dijual. Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Bolehkah aku membelinya?" Beliau menjawab: "Jangan engkau membelinya dan jangan engkau mengambil kembali sedekahmu."
Aku memberikan seekor kuda untuk digunakan di jalan Allah. Kemudian aku melihatnya dijual. Aku bertanya kepada Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) apakah aku boleh membelinya. Beliau bersabda, 'Jangan engkau membelinya dan jangan engkau mengambil kembali sedekahmu.'
Al-Humaydi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Malik bin Anas bertanya kepada Zaid bin Aslam, lalu Zaid berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Umar bin al-Khattab —semoga Allah meridainya— berkata: Aku memberikan seekor kuda di jalan Allah, lalu aku melihatnya dijual, maka aku bertanya kepada Nabi (semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya): “Apakah aku boleh membelinya?” Beliau menjawab: “Jangan engkau membelinya dan jangan engkau mengambil kembali sedekahmu.”
Bab : Apa yang dikatakan tentang panji Nabi ﷺ
Sa'id bin Abi Maryam menceritakan kepada kami, dia berkata: al-Layth menceritakan kepadaku, dia berkata: 'Uqayl mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dia berkata: Tsa'labah bin Abi Malik al-Qurazi mengabarkan kepadaku, bahwa Qais bin Sa'd al-Ansari, semoga Allah meridhainya, dan dia adalah pembawa panji Rasulullah ﷺ, ingin melaksanakan haji, lalu ia menyisir rambutnya.
Sa'id bin Abi Maryam menceritakan kepada kami, dia berkata: al-Layth menceritakan kepadaku, dia berkata: 'Uqail mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dia berkata: Tsa'labah bin Abi Malik al-Qurazi mengabarkan kepadaku, bahwa Qays bin Sa'ad al-Anshari (radhiyallahu 'anhu - رضي الله عنه) — yang merupakan pembawa bendera Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam - صلى الله عليه وسلم) — ingin melaksanakan haji, lalu dia menyisir rambutnya.
Bab : Bab: Sabda Nabi ﷺ: "Aku ditolong dengan rasa takut sejauh perjalanan satu bulan."
Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku diutus dengan kalimat-kalimat yang ringkas namun mengandung makna yang luas, dan aku ditolong dengan rasa takut. Ketika aku tidur, kunci-kunci perbendaharaan bumi dibawa kepadaku lalu diletakkan di tanganku." Abu Huraira menambahkan: Rasulullah ﷺ telah meninggalkan dunia dan kalian sekarang mengeluarkan harta-harta tersebut.
Bab : Membawa bekal dalam peperangan
‘Ubaid bin Isma‘il menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku, dan Fatimah juga menceritakan kepadaku, dari Asma’ (radhiyallahu ‘anha) dia berkata: Aku membuatkan sufrah (bekal makanan) untuk Rasulullah ﷺ di rumah Abu Bakar ketika beliau hendak berhijrah ke Madinah. Asma’ berkata: Kami tidak menemukan sesuatu untuk mengikat sufrah dan tempat minumnya. Aku berkata kepada Abu Bakar: Demi Allah, aku tidak menemukan sesuatu untuk mengikatnya kecuali nithaqku (sabukku). Dia berkata: Belahlah menjadi dua, ikatlah tempat minum dengan satu bagian dan sufrah dengan bagian yang lain. Maka aku melakukannya. Karena itulah aku dijuluki Dzat an-Nithaqain (wanita pemilik dua sabuk).
Telah menceritakan kepada kami 'Ubaid bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam, dia berkata: Bapakku mengabarkan kepadaku, dan Fathimah juga menceritakan kepadaku, dari Asma radhiyallahu 'anha, dia berkata: Aku membuatkan kantong perbekalan untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di rumah Abu Bakar ketika beliau hendak hijrah ke Madinah. Dia berkata: Kami tidak mendapatkan sesuatu untuk mengikat kantong perbekalan dan tempat minumnya kecuali ikat pinggangku. Maka aku berkata kepada Abu Bakar, 'Demi Allah, aku tidak mendapatkan sesuatu untuk mengikat keduanya kecuali ikat pinggangku.' Dia berkata: 'Belahlah menjadi dua, ikatlah tempat minum dengan yang satu dan kantong perbekalan dengan yang lainnya.' Maka aku pun melakukannya, dan karena itulah aku dijuluki Dzatun Nithaqain (wanita pemilik dua ikat pinggang).
Bab : Duduknya dua orang laki-laki bersama di atas keledai
Rasulullah (ﷺ) menaiki seekor keledai yang pelananya ditutupi kain beludru, dan beliau memboncengkan Usamah di belakangnya (di atas keledai tersebut).
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Shafwan, dari Yunus bin Yazid, dari Ibnu Syihab, dari 'Urwah, dari Usamah bin Zaid radliallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik di atas keledai dengan pelana yang dilapisi beludru, dan beliau membonceng Usamah di belakangnya.
Bab : Memegang hewan tunggangan orang lain dan sejenisnya
Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap sendi manusia wajib mengeluarkan sedekah setiap hari ketika matahari terbit. Kamu berbuat adil antara dua orang adalah sedekah, kamu membantu seseorang mengendarai hewan tunggangannya lalu membantunya naik di atasnya atau mengangkat barangnya ke atasnya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang kamu ayunkan menuju salat adalah sedekah, dan kamu menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.”
Bab : Takbir (Allahu Akbar) ketika perang
Nabi (صلى الله عليه وسلم) tiba di Khaibar pada pagi hari, sementara orang-orang keluar membawa cangkul-cangkul di atas pundak mereka. Ketika mereka melihat beliau, mereka berkata, 'Ini Muhammad dan pasukannya! Muhammad dan pasukannya!' Maka mereka berlindung di benteng. Nabi (صلى الله عليه وسلم) mengangkat kedua tangannya dan bersabda, 'Allahu Akbar, Khaibar hancur! Sesungguhnya apabila kami turun di halaman suatu kaum, maka buruklah pagi hari bagi orang-orang yang telah diperingatkan.' Kemudian kami menemukan beberapa keledai yang kami (sembelih lalu) masak. Seorang penyeru Nabi (صلى الله عليه وسلم) mengumumkan, 'Allah dan Rasul-Nya melarang kalian memakan daging keledai.' Maka seluruh periuk yang ada isinya dibalikkan.