Bab : Mengeraskan suara ketika takbir
Kami pernah bersama Rasulullah (صلى الله عليه وسلم). Apabila kami melihat lembah, kami mengucapkan: 'Lâ ilâha illâ Allâh, Allâhu akbar' (لا إله إلا الله والله أكبر), dan suara kami meninggi. Maka Nabi (صلى الله عليه وسلم) bersabda: 'Wahai manusia! Sayangilah diri kalian, karena kalian tidak menyeru kepada yang tuli atau yang gaib. Sesungguhnya Dia bersama kalian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha Berkah nama-Nya dan Maha Tinggi keagungan-Nya.'
Bab : Mengucapkan Takbir ketika naik ke tempat yang tinggi
Apabila kami menaiki (tempat yang tinggi), kami bertakbir, dan apabila kami menuruni, kami bertasbih.
Bab : Bepergian sendirian
Nabi (ﷺ) menyeru orang-orang pada hari perang Khandaq, lalu Az-Zubair menyambut seruan itu. Beliau menyeru mereka lagi, dan Az-Zubair menyambut lagi. Beliau menyeru mereka sekali lagi, dan Az-Zubair menyambut lagi. Kemudian Nabi (ﷺ) bersabda, “Setiap nabi memiliki penolong setia (hawari), dan penolong setiaku adalah Az-Zubair.”
Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Munkadir, dia berkata: Aku mendengar Jabir bin Abdullah (radhiyallahu 'anhuma) berkata: Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menyeru orang-orang pada hari Khandaq, maka az-Zubair menyambut seruan itu. Kemudian beliau menyeru mereka lagi, maka az-Zubair menyambut seruan itu. Kemudian beliau menyeru mereka lagi, maka az-Zubair menyambut seruan itu. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Setiap nabi memiliki hawari (pembela), dan hawari-ku adalah az-Zubair.' Sufyan berkata: 'Al-Hawari adalah penolong.'
Bab : Jika seseorang memberikan kudanya untuk perjuangan di jalan Allah lalu ia melihat kuda itu dijual
'Umar bin Al-Khattab memberikan seekor kuda untuk ditunggangi di jalan Allah, lalu ia mendapati kuda itu dijual. Ia berniat membelinya. Maka ia pun berkonsultasi dengan Rasulullah ﷺ yang bersabda, “Jangan engkau membelinya dan jangan engkau mengambil kembali sedekahmu” (لا تبتعه ولا تعد في صدقتك).
Bab : Jihad dengan izin kedua orang tua
Seorang laki-laki datang kepada Nabi (ﷺ) dan meminta izin untuk ikut berjihad. Nabi (ﷺ) bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi (ﷺ) bersabda, “Maka bersungguh-sungguhlah dalam melayani keduanya.”
Bab : Apa yang dikatakan tentang lonceng dan semisalnya di leher unta
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abdullah bin Abu Bakar dari Abbad bin Tamim bahwa Abu Basyir Al-Anshari radliallahu 'anhu mengabarkan kepadanya bahwa dia pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sebagian perjalanannya. (Abdullah berkata; Aku menduga dia berkata;) sementara orang-orang berada di tempat tidur mereka. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengirim seorang utusan yang menyampaikan: "Tidak boleh ada kalung dari tali busur panah atau kalung apa pun yang tersisa di leher unta, melainkan harus dipotong."
Bab : Mata-mata
Aku mendengar Ali (radhiyallahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengutusku, Az-Zubair, dan Al-Miqdad, dengan berkata, 'Berangkatlah kalian hingga sampai di Rawdat Khakh. Di sana kalian akan mendapati seorang wanita yang membawa surat. Ambillah surat itu darinya.'"
Maka kami pun berangkat dan kuda-kuda kami berlari kencang hingga kami tiba di Ar-Rawda. Di sana kami menemukan wanita tersebut dan berkata, "Keluarkan surat itu." Dia menjawab, "Aku tidak membawa surat." Kami berkata, "Keluarkan surat itu atau kami akan melepas pakaianmu." Maka dia mengeluarkannya dari sanggul rambutnya. Kami membawa surat itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ternyata di dalamnya berisi pernyataan dari Hatib bin Abi Balta'ah kepada sebagian orang musyrik Mekah, mengabarkan kepada mereka sebagian rencana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda, "Wahai Hatib, apa ini?" Hatib menjawab, "Wahai Rasulullah, janganlah engkau tergesa-gesa menilai aku. Aku adalah seorang yang dekat dengan Quraisy, tetapi aku bukan dari kalangan mereka. Sedangkan para muhajirin yang bersamamu memiliki kerabat di Mekah yang melindungi keluarga dan harta mereka. Maka aku ingin, karena aku tidak memiliki hubungan darah dengan mereka, untuk berbuat baik kepada mereka agar mereka melindungi keluargaku. Aku melakukan ini bukan karena kufur, bukan karena murtad, dan bukan karena lebih memilih kekufuran daripada Islam."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hatib telah berkata jujur kepada kalian." Umar berkata, "Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal kepala orang munafik ini." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya dia telah ikut serta dalam Perang Badar. Tahukah engkau, mungkin Allah telah melihat para pasukan Badar lalu berfirman, 'Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian.'"
Bab : Memberikan Pakaian kepada Para Tawanan Perang
Ketika terjadi perang Badar, para tawanan didatangkan, dan didatangkan pula Abbas dalam keadaan tidak berpakaian. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencarikan baju untuknya. Mereka mendapati baju Abdullah bin Ubayy cocok untuknya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memakaikannya kepadanya. Karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melepas bajunya sendiri dan memberikannya kepada Abdullah. Ibnu Uyainah berkata, 'Abdullah pernah berjasa kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau ingin membalasnya.
Bab : Keutamaan orang yang melalui tangannya seorang laki-laki masuk Islam
Pada hari Khaibar, Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini besok kepada seseorang yang akan diberikan kemenangan melalui tangannya, yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya.” Maka orang-orang pun bermalam sambil memikirkan siapa di antara mereka yang akan diberi bendera itu, dan pagi harinya mereka semua berharap mendapatkannya. Beliau bertanya, “Di mana 'Ali?” Dikatakan bahwa 'Ali sedang mengeluh sakit matanya. Maka beliau meludahi matanya dan mendoakannya, lalu ia sembuh seakan-akan tidak sakit sama sekali. Kemudian beliau memberikan bendera itu kepadanya. 'Ali berkata, “Apakah aku memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kami?” Beliau bersabda, “Berjalanlah dengan tenang hingga engkau sampai di halaman mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan beritahukanlah kepada mereka apa yang wajib atas mereka. Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada seorang laki-laki melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta merah.”
Bab : Membunuh anak-anak dalam perang
Pada sebagian Ghazawat (peperangan) Nabi ﷺ, ditemukan seorang wanita terbunuh. Rasulullah ﷺ mengingkari pembunuhan wanita dan anak-anak.
Bab : Membunuh wanita dalam perang
Pada sebagian peperangan Rasulullah ﷺ, ditemukan seorang wanita terbunuh. Maka Rasulullah ﷺ melarang membunuh wanita dan anak-anak.
Bab : Tidak menghukum dengan azab Allah
Rasulullah (ﷺ) pernah mengutus kami dalam sebuah misi dan bersabda: 'Jika kalian menemukan si Fulan dan si Fulan, bakarlah keduanya dengan api.' Ketika kami hendak berangkat, Rasulullah (ﷺ) bersabda: 'Sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian untuk membakar si Fulan dan si Fulan, tetapi tidak ada yang menghukum dengan api kecuali Allah. Jika kalian menemukan keduanya, maka bunuhlah keduanya.'
Bab : Jika seorang musyrik membakar seorang muslim, apakah ia harus dibakar (sebagai balasan)?
Telah menceritakan kepada kami Mu‘alla bin Asad, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada rombongan dari ‘Ukl terdiri dari delapan orang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka tidak betah dengan iklim Madinah. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, berilah kami susu.” Beliau bersabda, “Aku tidak mendapatkan untuk kalian kecuali hendaklah kalian bergabung dengan unta perahan.” Maka mereka pergi dan meminum air kencing dan susu unta tersebut sampai sehat dan gemuk. Kemudian mereka membunuh penggembala, menggiring unta-unta tersebut, dan kafir setelah keislaman mereka. Lalu teriakan minta tolong sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau mengirim pasukan pengejar. Sebelum siang naik, mereka telah didatangkan. Beliau memotong tangan dan kaki mereka, kemudian memerintahkan paku-paku yang dipanaskan, lalu menyundut mata mereka dengan paku tersebut, dan membuang mereka di tanah berbatu (Harrah). Mereka meminta air, tetapi tidak diberi, hingga mereka mati. Abu Qilabah berkata, “Mereka membunuh, mencuri, memerangi Allah dan Rasul-Nya, dan membuat kerusakan di muka bumi.”
Bab : Pembakaran rumah-rumah dan pohon kurma
Jarir berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Tidakkah engkau melegakanku dari Dzul-Khalashah?” Dzul-Khalashah adalah sebuah rumah (berhala) di daerah Khats'am yang disebut Ka'bah Al-Yamaniyah. Ia berkata: Maka aku berangkat dengan seratus lima puluh pasukan berkuda dari suku Ahmas, dan mereka adalah para penunggang kuda yang mahir. Ia berkata: Aku tidak bisa mantap di atas kuda, maka beliau memukul dadaku hingga aku melihat bekas jari-jarinya di dadaku, dan beliau bersabda, “Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikanlah dia seorang pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk.” Maka ia berangkat ke rumah itu, lalu menghancurkannya dan membakarnya. Kemudian ia mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengabarkan hal itu. Utusan Jarir berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak datang kepadamu melainkan setelah aku meninggalkannya seperti unta yang kosong atau berkurap.” Ia berkata: Maka beliau memohonkan keberkahan untuk kuda-kuda Ahmas dan para lelakinya sebanyak lima kali.
Musaddad menceritakan kepada kami, Yahya menceritakan kepada kami, dari Ismail, dia berkata: Qais bin Abi Hazim menceritakan kepadaku, dia berkata: Jarir berkata kepadaku: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku: 'Apakah engkau tidak ingin membebaskanku dari Dzul-Khalashah?' Yaitu sebuah rumah di daerah Khats'am yang disebut Ka'bah Yamaniyyah. Jarir berkata: Maka aku berangkat bersama seratus lima puluh pasukan berkuda dari Ahmas, dan mereka adalah para penunggang kuda. Jarir berkata: Aku tidak bisa tegak di atas kuda, maka beliau memukul dadaku hingga aku melihat bekas jari-jarinya di dadaku dan beliau berdoa: 'Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikanlah dia pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk.'
Maka dia berangkat ke tempat itu, lalu menghancurkannya dan membakarnya. Kemudian dia mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengabarkan hal itu. Utusan Jarir berkata: 'Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak datang kepadamu hingga aku meninggalkannya seperti unta yang kerempong atau berpenyakit.' Jarir berkata: Maka beliau memberkahi kuda-kuda dan laki-laki Ahmas sebanyak lima kali.
Bab : Membunuh orang musyrik yang sedang tidur
Rasulullah ﷺ mengirim sekelompok orang Ansar untuk membunuh Abu Rafi'. Salah seorang dari mereka berangkat dan masuk ke benteng mereka. Orang itu berkata: "Aku bersembunyi di kandang binatang ternak mereka. Mereka menutup pintu benteng. Kemudian mereka kehilangan seekor keledai milik mereka, lalu mereka keluar mencarinya. Aku pun keluar bersama mereka, berpura-pura ikut mencarinya. Mereka menemukan keledai itu dan masuk ke benteng mereka. Aku pun ikut masuk bersama mereka. Mereka menutup pintu benteng pada malam hari dan meletakkan kunci-kuncinya di sebuah lubang kecil yang bisa kulihat. Ketika orang-orang itu tidur, aku mengambil kunci-kunci itu dan membuka pintu benteng, lalu aku masuk menemui Abu Rafi' dan berkata, 'Wahai Abu Rafi'. Ia menjawabku. Aku mengarahkan suaranya, lalu aku memukulnya. Ia berteriak, lalu aku keluar dan kembali lagi dengan berpura-pura menjadi penolong. Aku berkata, 'Wahai Abu Rafi', dengan mengubah nada suaraku. Ia bertanya, 'Ada apa denganmu? Celakalah ibumu!' Aku bertanya, 'Apa yang terjadi padamu?' Ia menjawab, 'Aku tidak tahu siapa yang datang kepadaku dan memukulku.' Kemudian aku menancapkan pedangku ke perutnya dan menekannya sampai menyentuh tulang. Lalu aku keluar dalam keadaan bingung, dan aku pergi menuju tangga mereka untuk turun, tetapi aku jatuh dan kakiku terkilir. Aku menemui sahabat-sahabatku dan berkata, 'Aku tidak akan pergi sampai aku mendengar ratapan kaum wanita.' Maka aku tidak pergi sampai aku mendengar para wanita meratapi Abu Rafi', pedagang penduduk Hijaz. Kemudian aku bangkit tanpa merasa sakit, (dan kami berangkat) hingga kami menemui Nabi ﷺ dan mengabarinya."
Rasulullah ﷺ mengutus sekelompok kaum Ansar kepada Abu Rafi' untuk membunuhnya. Maka salah seorang dari mereka berangkat dan masuk ke benteng mereka. Dia berkata: 'Aku masuk ke kandang hewan-hewan mereka.' Dia berkata: 'Mereka menutup pintu benteng. Kemudian mereka kehilangan seekor keledai milik mereka, maka mereka keluar mencarinya. Aku keluar bersama orang-orang yang keluar, menunjukkan kepada mereka bahwa aku mencarinya bersama mereka. Mereka menemukan keledai itu, lalu mereka masuk, dan aku ikut masuk bersama mereka. Mereka menutup pintu benteng pada malam hari, dan meletakkan kunci-kunci di sebuah ceruk yang dapat kulihat. Ketika mereka tidur, aku mengambil kunci-kunci itu, membuka pintu benteng, lalu masuk menemuinya dan berkata: 'Wahai Abu Rafi'. Dia menjawabku. Aku mengarahkan pukulan ke suaranya dan memukulnya. Dia berteriak.
Maka aku keluar, lalu kembali, lalu kembali lagi seolah-olah aku seorang penolong, dan berkata dengan mengubah suaraku: 'Wahai Abu Rafi'. Dia berkata: 'Ada apa denganmu? Celaka engkau!' Aku berkata: 'Apa yang terjadi padamu?' Dia berkata: 'Aku tidak tahu siapa yang masuk menemuiku dan memukulku.' Kemudian aku meletakkan pedangku di perutnya, lalu aku menekan sampai menembus tulang. Kemudian aku keluar dalam keadaan bingung.
Aku mendatangi tangga mereka untuk turun, tetapi aku jatuh dan kakiku terkilir. Aku keluar menemui sahabat-sahabatku dan berkata: 'Aku tidak akan pergi sampai aku mendengar pengumuman kematiannya.' Aku tidak berdiam lama hingga aku mendengar ratapan kematian Abu Rafi', pedagang penduduk Hijaz. Maka aku berdiri tanpa merasa sakit, hingga kami datang kepada Nabi ﷺ dan mengabarinya.
Bab : Perang adalah tipu daya
Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: "Kisra telah binasa dan tidak akan ada lagi Kisra setelahnya. Dan Qaisar pasti akan binasa dan tidak akan ada lagi Qaisar setelahnya. Dan harta kekayaan mereka pasti akan dibelanjakan di jalan Allah." Dan beliau menamakan perang sebagai tipu daya.
Nabi ﷺ bersabda, “Kisra telah binasa, dan tidak akan ada Kisra setelahnya. Adapun Kaisar, sungguh dia akan binasa, dan tidak akan ada Kaisar setelahnya. Dan sungguh, harta kekayaan mereka akan dibagikan di jalan Allah.”
Dan beliau menyebut perang sebagai tipu daya.