Mishkat al-Masabih
Warisan dan Wasiat
كتاب الفرائض والوصايا
Bab 19
الفصل الأول
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Aku lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri. Siapa yang meninggal dengan meninggalkan utang tanpa harta yang cukup untuk melunasinya, akulah yang bertanggung jawab melunasinya; dan siapa yang meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik ahli warisnya.” Dalam versi lain beliau bersabda, “Jika seseorang meninggalkan utang atau anak-anak tanpa nafkah, datanglah kepadaku karena aku pelindung mereka.” Versi lainnya menyebut, “Harta yang ditinggalkan menjadi milik ahli waris, sedangkan orang-orang tanggungan yang tidak memiliki bekal datang kepada kami.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Berikan bagian warisan kepada yang berhak menerimanya; sisanya menjadi hak kerabat laki-laki yang paling dekat.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Usamah bin Zaid meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi seorang Muslim.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Anas meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Mawla* suatu kaum termasuk bagian dari kaum itu.” *Kata maula dapat berarti orang yang memerdekakan budak ataupun budak yang telah dimerdekakan, sehingga hadis ini ditafsirkan dengan dua cara sesuai maknanya. Diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Ia meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Anak laki-laki dari seorang saudari memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga ibunya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
‘Abdullah bin ‘Amr meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang berbeda agama tidak saling mewarisi.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah; at-Tirmidzi juga meriwayatkannya dari Jabir.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang membunuh seseorang tidak dapat mewarisinya.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
Buraidah meriwayatkan bahwa Nabi menetapkan seperenam bagian warisan bagi seorang nenek jika tidak ada ibu yang lebih dahulu berhak mewarisi. Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jika seorang bayi sempat bersuara lalu meninggal*, salat jenazah dilakukan untuknya dan ia diperlakukan sebagai ahli waris.” *Kata “lalu meninggal” tidak terdapat dalam teks, tetapi jelas dipahami dari konteks. Jika istri salah seorang ahli waris orang yang wafat sedang hamil, pembagian harta tidak boleh dilakukan sebelum bayi lahir. Jika bayi hidup cukup lama untuk bersuara, ia berhak atas bagian warisan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan ad-Darimi.
Katsir bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ayah dan kakeknya bahwa Rasulullah bersabda, “Mawla* suatu kaum termasuk bagian dari kaum itu; sekutu* suatu kaum termasuk golongannya; dan anak laki-laki dari seorang saudari berkerabat dengan keluarga ibunya.” *Juga dapat berarti orang yang memerdekakan. *Atau: sahabat dekat. Diriwayatkan oleh Dawud.
Al-Miqdam meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Aku lebih dekat kepada setiap orang beriman daripada dirinya sendiri. Jika seseorang meninggalkan utang atau keluarga yang tak berdaya, akulah yang menanggungnya; jika ia meninggalkan harta, harta itu menjadi milik ahli warisnya. Aku adalah pelindung orang yang tidak memiliki pelindung: aku mewarisi hartanya dan membebaskannya dari tanggungannya. Paman dari pihak ibu adalah ahli waris orang yang tidak memiliki ahli waris; ia mewarisi hartanya dan membebaskannya dari tanggungannya.” Dalam versi lain beliau bersabda, “Aku adalah ahli waris orang yang tidak memiliki ahli waris; aku membayar diyatnya dan mewarisinya. Paman dari pihak ibu juga ahli waris orang yang tidak memiliki ahli waris; ia membayar diyatnya dan mewarisinya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Watsilah bin al-Asqa‘ meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang perempuan mewarisi dari tiga pihak: orang yang ia merdekakan, anak temuan, dan anaknya yang ia sangkal melalui li‘an jika ia benar dalam menyatakan bahwa anak itu lahir di luar pernikahan.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.
‘Amr bin Syu‘aib meriwayatkan dari ayah dan kakeknya bahwa Nabi bersabda, “Jika seorang lelaki berzina dengan perempuan merdeka atau budak perempuan, anak itu adalah hasil zina; ia tidak mewarisi dan tidak ada yang mewarisi darinya.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.
‘Aisyah meriwayatkan bahwa seorang maula Rasulullah meninggal dengan meninggalkan harta, tetapi tidak memiliki kerabat maupun anak. Rasulullah bersabda, “Berikanlah harta peninggalannya kepada seorang lelaki dari kampungnya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi.
Buraidah meriwayatkan bahwa seorang lelaki dari Khuza‘ah meninggal dan harta warisannya dibawa kepada Nabi. Beliau memerintahkan agar dicari ahli waris atau kerabatnya, tetapi tidak ditemukan. Rasulullah lalu berkata, “Berikanlah harta itu kepada tokoh* Khuza‘ah.” *Kata al-kubr dapat berarti yang paling tinggi kedudukannya atau yang paling tua; kemungkinan besar maksudnya kerabat terdekat dari leluhur tertua, dengan jumlah generasi perantara paling sedikit. Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dalam versi lain beliau bersabda, “Carilah lelaki paling besar* di Khuza‘ah.” *Akbar dapat berarti paling besar atau paling tua, tetapi kemungkinan digunakan dengan makna yang sama seperti al-kubr.
‘Ali berkata, “Kalian membaca ayat, ‘sesudah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau utangnya’ (Al-Qur’an 4:12), tetapi Rasulullah menetapkan bahwa utang harus dibayar sebelum wasiat, dan saudara seibu saling mewarisi, sedangkan anak-anak dari ayah yang sama tetapi ibu berbeda tidak saling mewarisi. Seseorang mewarisi saudaranya yang seayah dan seibu, tetapi tidak mewarisi saudara seayah yang berbeda ibu.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dalam versi ad-Darimi: “Saudara seibu saling mewarisi, tetapi anak-anak dari ayah yang sama dan ibu yang berbeda tidak mewarisi,” dan seterusnya.
Jabir meriwayatkan bahwa istri Sa‘d bin ar-Rabi‘ membawa kedua putrinya kepada Rasulullah. Ayah mereka gugur sebagai syahid bersamanya dalam Perang Uhud. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, paman mereka dari pihak ayah telah mengambil harta mereka dan tidak menyisakan apa pun. Mereka tak dapat menikah tanpa harta.” Beliau menjawab bahwa Allah akan menetapkan perkara itu. Setelah ayat warisan turun (Al-Qur’an 4:11), beliau memanggil paman mereka dan berkata, “Berikan dua pertiga kepada kedua putri Sa‘d, seperdelapan kepada ibu mereka, dan sisanya menjadi hakmu.” Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah; at-Tirmidzi menilainya hasan gharib.
Hudza’il bin Syurahbil meriwayatkan bahwa Abu Musa ditanya tentang kasus warisan yang mencakup seorang anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, dan seorang saudari. Ia menjawab, “Anak perempuan mendapat setengah, dan saudari mendapat setengah. Tanyakan kepada Ibnu Mas‘ud, kalian akan mendapati pendapatnya sama denganku.” Ketika Ibnu Mas‘ud ditanya dan diberi tahu jawaban Abu Musa, ia berkata, “Kalau begitu aku keliru dan bukan termasuk orang yang mendapat petunjuk. Aku menetapkan seperti Nabi: anak perempuan mendapat setengah, cucu perempuan dari anak laki-laki mendapat seperenam sehingga jumlahnya dua pertiga, dan sisanya untuk saudari.” Kami kembali kepada Abu Musa dan menceritakan keputusan Ibnu Mas‘ud. Ia berkata, “Jangan bertanya kepadaku selama orang berilmu itu ada di antara kalian.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Catatan editorial menyebut hadis al-Bukhari ini muncul di bagian 2.
‘Imran bin Husain meriwayatkan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Cucu laki-lakiku meninggal. Berapa bagian warisanku?” Beliau menjawab, “Seperenam.” Ketika lelaki itu berpaling, beliau memanggilnya lagi dan berkata, “Engkau mendapat seperenam lagi.” Saat ia berpaling lagi, beliau memanggilnya kembali dan berkata, “Seperenam sisanya adalah pemberian tambahan.” Catatan menjelaskan bahwa cucunya kemungkinan meninggalkan dua anak perempuan yang berhak atas dua pertiga. Kakeknya berhak atas seperenam, tetapi diberi seperenam lagi sebagai kemurahan, mungkin karena tidak ada ahli waris lain. Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan Abu Dawud; at-Tirmidzi menilainya hasan sahih.