Ritus Haji (Kitab Al-Manasik Wa'l-Haji)
كتاب المناسك
Bab 610
فِي الْفِدْيَةِ
Ka'b bin Ujrah meriwayatkan: Aku pernah terkena kutu di kepalaku saat aku bersama Rasulullah (ﷺ) pada tahun Perjanjian Hudaibiyyah, hingga aku khawatir terhadap penglihatanku. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat:
Lalu Rasulullah (ﷺ) memanggilku dan bersabda, "Cukurlah rambut kepalamu, dan berpuasalah selama tiga hari, atau berilah makan enam orang miskin sebanyak satu faraq kismis, atau sembelihlah seekor kambing." Maka aku mencukur kepalaku lalu aku menyembelih kurban."Dan barangsiapa di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya..."
"Mana saja dari hal tersebut yang kamu lakukan, itu sudah mencukupi bagimu."
Bab 611
الإِحْصَارِ
Rasulullah (ﷺ) bersabda: "Barangsiapa yang mengalami patah (tulang) atau pincang, maka ia telah keluar (tapi harus menyelesaikan ibadahnya) dan wajib baginya menunaikan haji pada tahun berikutnya." Ikrimah berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas dan Abu Hurairah tentang hal tersebut, lalu keduanya menjawab: "Ia benar."
Nabi (ﷺ) bersabda: "Barangsiapa yang mengalami patah (tulang), pincang, atau sakit..." lalu beliau menyebutkan maknanya. Salamah bin Syabib berkata: Ma'mar menceritakan kepada kami.
Bab 612
دُخُولِ مَكَّةَ
Bahwa Ibnu 'Umar apabila tiba di Mekkah, beliau bermalam di Dhu Tuwa hingga pagi hari, lalu mandi dan memasuki Mekkah pada siang hari. Beliau menyebutkan dari Nabi (ﷺ) bahwa beliau melakukan hal tersebut.
Nabi (ﷺ) biasa memasuki Makkah melalui celah bukit yang atas—Yahya berkata: “Nabi (ﷺ) biasa memasuki Makkah dari Kada', melalui celah bukit al-Batha'” —dan beliau keluar melalui celah bukit yang bawah.
Al-Barmaki menambahkan: “Maksudnya dua celah bukit Makkah.” Dan hadis Musaddad lebih lengkap.
Nabi (ﷺ) biasa keluar melalui jalur Al-Sajarah dan masuk melalui jalur Al-Mu'arras.
'Aisyah berkata: Rasulullah (ﷺ) masuk (ke Makkah) pada tahun Penaklukan dari Kada' dari bagian atas Makkah, dan beliau masuk untuk (melaksanakan) 'Umrah dari Kuda'. Dia berkata: 'Urwah dahulu biasa masuk melalui kedua jalan tersebut, dan kebanyakan yang beliau masuki adalah Kuda', karena jalan tersebut lebih dekat ke rumahnya di antara keduanya.
Ketika Nabi (ﷺ) memasuki Makkah, beliau memasukinya dari bagian atasnya dan keluar dari bagian bawahnya.
Bab 613
فِي رَفْعِ الْيَدَيْنِ إِذَا رَأَى الْبَيْتَ
Jabir bin Abdullah ditanya tentang seorang laki-laki yang melihat Baitullah lalu mengangkat kedua tangannya. Ia berkata: "Aku tidak pernah mengira ada seorang pun yang melakukan ini kecuali orang-orang Yahudi. Kami pernah berhaji bersama Rasulullah (ﷺ), dan beliau tidak melakukannya."
Ketika Nabi (ﷺ) memasuki kota Mekkah, beliau melakukan thawaf di Baitullah dan shalat dua rakaat di belakang Maqam, yaitu pada hari penaklukan kota Mekkah (Fathu Makkah).
Rasulullah (ﷺ) datang lalu memasuki Makkah, lantas menuju Hajar Aswad dan menyentuhnya, kemudian thawaf mengelilingi Baitullah. Setelah itu beliau mendaki Shafa hingga dapat melihat Baitullah, lalu mengangkat kedua tangannya dan mulai menyebut (nama) Allah sebanyak yang beliau kehendaki serta berdoa kepada-Nya. Orang-orang Ansar berada di bawahnya. Hasyim berkata: Beliau berdoa, memuji Allah, dan berdoa dengan apa yang beliau kehendaki.
Bab 614
فِي تَقْبِيلِ الْحَجَرِ
Ia mendatangi Hajar (Khatulistiwa/Hajar Aswad) lalu menciumnya, seraya berkata, "Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula bahaya, dan seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu."
Bab 615
اسْتِلاَمِ الأَرْكَانِ
Ibn 'Umar berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah (ﷺ) menyentuh sesuatu pun dari Baitullah kecuali dua rukun Yamani.
Telah dilaporkan kepada Ibnu Umar bahwa Aisyah, semoga Allah meridhainya, berkata bahwa sebagian dari Hijir adalah bagian dari Baitullah. Ibnu Umar berkata, "Demi Allah, jika Aisyah mendengarnya dari Rasulullah, shallallahu alaihi wa sallam, aku mengira Rasulullah, shallallahu alaihi wa sallam, tidak meninggalkan usapan pada kedua sudut tersebut melainkan karena keduanya tidak berada di atas pondasi Baitullah, dan orang-orang tidak melakukan thawaf di belakang Hijir melainkan karena alasan itu."
Ibn 'Umar berkata: Rasulullah (ﷺ) tidak pernah meninggalkan untuk mengusap sudut Yaman dan Hajar Aswad pada setiap thawaf. Dan 'Abdullah bin 'Umar biasa melakukan hal tersebut.
Bab 616
الطَّوَافِ الْوَاجِبِ
Rasulullah (ﷺ) melakukan tawaf saat Haji Wada' di atas unta, menyentuh rukun (Hajar Aswad) dengan tongkat yang melengkung.
Ketika Rasulullah (ﷺ) menetap di Mekkah pada tahun penaklukan, beliau melakukan tawaf di atas unta, menyentuh rukun (Hajar Aswad) dengan tongkat melengkung yang ada di tangannya. Dia berkata: Dan aku sedang melihat kepadanya.
Aku melihat Nabi (ﷺ) melakukan thawaf di Baitullah di atas tunggangannya, menyusuri sudut (Hajar Aswad) dengan tongkat yang melengkung lalu menciumnya. Muhammad bin Rafi' menambahkan: Kemudian beliau keluar menuju Safa dan Marwah lalu thawaf tujuh kali di atas tunggangannya.