Sahih al-Bukhari

Memohon Allah untuk Hujan (Istisqaa)

كتاب الاستسقاء

Bab : Apabila orang-orang meminta imam untuk memohonkan hujan kepada Allah, imam tidak boleh menolak mereka.

Sahih al-Bukhari 1019
Diriwayatkan oleh Aisyah

Sa'id bin 'Ufair menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Laits menceritakan kepada kami, dia berkata: 'Uqail menceritakan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dia berkata: 'Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa 'Aisyah, istri Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam), mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) shalat pada hari terjadi gerhana matahari. Beliau berdiri, bertakbir, lalu membaca bacaan yang panjang. Kemudian beliau rukuk dengan rukuk yang panjang. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan mengucapkan: “Samiallahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya).” Kemudian beliau berdiri sebagaimana tadi, lalu membaca bacaan yang panjang, tetapi lebih pendek dari bacaan pertama. Kemudian beliau rukuk dengan rukuk yang panjang, tetapi lebih pendek dari rukuk pertama. Kemudian beliau sujud dengan sujud yang panjang. Kemudian beliau melakukan hal yang sama pada rakaat yang kedua. Kemudian beliau salam, dan matahari telah muncul kembali.

Kemudian beliau berkhutbah kepada orang-orang dan bersabda tentang gerhana matahari dan bulan: “Sesungguhnya keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya, maka bersegeralah menuju shalat.”

Bab : Doa meminta hujan sambil berdiri

Sahih al-Bukhari 1022

Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami, dia berkata: Syaiban telah menceritakan kepada kami, dari Yahya, dari Abu Salamah, dari 'Abdullah bin 'Amr, bahwa dia berkata: 'Ketika matahari gerhana pada masa Rasulullah ﷺ, diserukan: “Shalat jama'ah.” Maka Nabi ﷺ salat dua rakaat dalam satu sujud, kemudian berdiri lalu salat dua rakaat dalam satu sujud, kemudian duduk, kemudian matahari kembali terang.'

Sahih al-Bukhari 1023
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Atha’ bin Yasar, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas:

Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau kemudian salat. Beliau berdiri dengan lama, kira-kira selama bacaan surat Al-Baqarah, kemudian rukuk dengan lama, kemudian bangkit dan berdiri dengan lama tetapi di bawah berdiri pertama, kemudian rukuk dengan lama tetapi di bawah rukuk pertama, kemudian sujud. Kemudian beliau berdiri dengan lama tetapi di bawah berdiri pertama, kemudian rukuk dengan lama tetapi di bawah rukuk pertama, kemudian bangkit dan berdiri dengan lama tetapi di bawah berdiri pertama, kemudian rukuk dengan lama tetapi di bawah rukuk pertama, kemudian sujud. Kemudian beliau berpaling, dan matahari telah tampak kembali. Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kehidupan seseorang. Apabila kalian melihat hal itu, maka berdzikirlah kepada Allah.”

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau meraih sesuatu di tempatmu, kemudian kami melihat engkau mundur.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku melihat surga, lalu aku meraih setandan buah anggur. Seandainya aku mengambilnya, niscaya kalian akan memakannya selama dunia masih ada. Dan diperlihatkan kepadaku neraka, maka aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada hari ini. Dan aku melihat mayoritas penghuninya adalah wanita.” Mereka bertanya, “Karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kekufuran mereka.” Ditanyakan, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau bersabda, “Mereka kufur kepada suami dan kufur terhadap kebaikan. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian dia melihat sesuatu darimu (yang tidak dia sukai), dia akan berkata, 'Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.'”

Bab : Bagaimana Nabi (saw) membelakangi orang-orang [sambil mempersembahkan Salat (shalat) untuk hujan]

Sahih al-Bukhari 1025
Diriwayatkan 'Abbad bin Tamim dari pamannya

"Saya melihat Nabi (صلى الله عليه وسلم) pada hari ketika dia keluar untuk shalat Istisqa. Dia memunggungi orang-orang dan menghadap kiblat dan meminta hujan kepada Allah. Kemudian dia membalikkan jubahnya ke luar dan memimpin kami dalam shalat dua rakat dan membacakan Al-Qur'an dengan keras di dalamnya."

Bab : Mengangkat kedua tangan oleh Imam selama Istisqa' sambil memohon kepada Allah untuk hujan

Sahih al-Bukhari 1031
Diriwayatkan Anas bin Malik

Nabi (صلى الله عليه وسلم) tidak pernah mengangkat tangannya untuk doa apa pun kecuali untuk doa Istisqa' dan dia biasa mengangkatnya sedemikian rupa sehingga keputihan ketiaknya menjadi terlihat. (Catatan: Mungkin Anas tidak melihat Nabi (صلى الله عليه وسلم) mengangkat tangannya, tetapi diriwayatkan bahwa Nabi (صلى الله عليه وسلم) biasa mengangkat tangannya untuk doa selain Istisqa. Lihat Hadis No. 807 & 808 dan juga lihat Hadis No. 612, Vol. 5).

Bab : Apa yang harus dikatakan (atau apa yang harus dikatakan) jika hujan

Sahih al-Bukhari 1032
Diriwayatkan Aisha

Setiap kali Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) melihat hujan, dia biasa berkata, "Ya Allah! Biarlah itu menjadi hujan yang kuat dan berbuah."

Bab : Jika angin bertiup (apa yang harus dilakukan atau dikatakan?)

Sahih al-Bukhari 1034
Riwayat Anas

Setiap kali angin kencang bertiup, kecemasan muncul di wajah Nabi (takut angin itu bisa menjadi tanda murka Allah).

Bab : Permintaan umat kepada Imam untuk mengucapkan shalat Istisqa

Sahih al-Bukhari 1010
Riwayat Anas

Setiap kali kekeringan mengancam mereka, 'Umar bin Al-Khattab, biasa meminta Al-Abbas bin 'Abdul Muttalib untuk memohon hujan kepada Allah. Dia biasa berkata, "Ya Allah! Kami dulu meminta Nabi kami untuk memohon kepada-Mu untuk hujan, dan Engkau akan memberkati kami dengan hujan, dan sekarang kami meminta pamannya untuk memohon kepada-Mu untuk hujan. Ya Allah! Berkatilah kami dengan hujan." (1) Dan hujan akan turun.

Bab : Doa ketika jalan-jalan terputus karena hujan lebat

Sahih al-Bukhari 1017
Abdullah ibn 'Amr

Ketika matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah ﷺ, diserukan: “Sesungguhnya salat itu berjamaah.”

Bab : Bab: Apa yang dikatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membalik selendangnya saat shalat istisqa (meminta hujan) pada hari Jumat.

Sahih al-Bukhari 1018
Diriwayatkan oleh Aisyah, istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Aisyah berkata: « Matahari mengalami gerhana pada masa hidup Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau keluar menuju masjid, lalu orang-orang berdiri di belakang beliau. Beliau bertakbir dan membaca bacaan yang panjang. Kemudian beliau bertakbir dan rukuk dengan rukuk yang panjang. Lalu beliau mengucapkan: « Sami'a Allahu liman hamidah (سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) » (Allah mendengar orang yang memuji-Nya). Beliau berdiri tanpa sujud, lalu membaca bacaan yang panjang, tetapi lebih pendek dari bacaan pertama. Kemudian beliau bertakbir dan rukuk dengan rukuk yang panjang, tetapi lebih pendek dari rukuk pertama. Lalu beliau mengucapkan: « Sami'a Allahu liman hamidah, Rabbana wa lakal-hamd (رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ) » (Allah mendengar orang yang memuji-Nya; wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji). Kemudian beliau sujud. Kemudian beliau melakukan hal yang sama pada rakaat terakhir, sehingga genaplah empat rakaat dengan empat sujud. Matahari pun muncul kembali sebelum beliau selesai. Kemudian beliau berdiri, memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, lalu bersabda: « Keduanya (matahari dan bulan) adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah; keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya, maka bersegeralah menunaikan shalat. » »

Katsir bin Abbas biasa menceritakan bahwa Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan pada hari terjadinya gerhana matahari seperti hadits Urwah dari Aisyah. Aku berkata kepada Urwah: « Sesungguhnya saudaramu pada hari gerhana di Madinah tidak menambah lebih dari dua rakaat seperti shalat Subuh. » Dia menjawab: « Benar, karena dia keliru dalam memahami sunnah. »

Bab : Apabila orang-orang musyrik meminta syafaat kepada kaum muslimin untuk meminta hujan ketika musim kemarau

Sahih al-Bukhari 1020
Abu Bakrah

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Yunus dari al-Hasan dari Abu Bakrah, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, tetapi Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya.'

Abu 'Abdullah (al-Bukhari) berkata: 'Abdul-Warits, Syu'bah, Khalid bin 'Abdullah, dan Hammad bin Salamah tidak menyebutkan dari Yunus lafazh 'menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya'. Dan Musa mengikutinya (Hammad bin Zaid) dari Mubarak dari al-Hasan, dia berkata: Abu Bakrah mengabarkan kepadaku dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: 'Sesungguhnya Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya.' Dan Asy'ats juga mengikutinya dari al-Hasan.

Bab : Shalat Istisqa terdiri dari dua raka.

Sahih al-Bukhari 1026
Diriwayatkan 'Abbad bin Tamim dari pamannya yang mengatakan

"Nabi (صلى الله عليه وسلم) memohon kepada Allah untuk hujan dan shalat dua rakat dan dia meletakkan jubahnya ke luar."

Bab : Menghadap kiblat sambil memanjatkan shalat Istisqa

Sahih al-Bukhari 1028
Diriwayatkan 'Abdullah bin Zaid Al-Ansari

Nabi (صلى الله عليه وسلم) pergi ke Musalla untuk berdoa Istisqa dan ketika dia bermaksud untuk berdoa (Allah) atau mulai berdoa, dia menghadap kiblat dan membalikkan jubahnya ke luar.

Bab : Saat mempersembahkan shalat Istisqa, orang harus mengangkat tangan bersama dengan Imam

Sahih al-Bukhari 1029
Diriwayatkan Anas bin Malik

Seorang Badui datang kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) pada hari Jumat dan berkata, "Wahai Rasulullah! Ternak, keturunan, dan orang-orang telah binasa." Jadi, Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) mengangkat kedua tangannya memohon kepada Allah (untuk hujan) dan orang-orang juga mengangkat tangan mereka dengan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) memohon kepada Allah (untuk hujan). Kami belum meninggalkan masjid ketika hujan mulai turun. Hujan turun sampai hari Jumat berikutnya ketika orang yang sama datang kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) dan berkata, "Wahai Rasulullah! Para pelancong terpaksa menunda perjalanan mereka (karena hujan yang berlebihan) dan jalan-jalan meluap."

Sahih al-Bukhari 1030

Narator Anas menambahkan bahwa Nabi (صلى الله عليه وسلم) mengangkat tangannya (selama doa) sedemikian rupa sehingga keputihan ketiaknya terlihat.

Bab : Gempa bumi dan tanda-tanda (lainnya) (dari Hari Penghakiman)

Sahih al-Bukhari 1037
Diriwayatkan Ibnu 'Umar

(Rasulullah) bersabda, "Ya Allah! Berkatilah Syam kami dan Yaman kami." Orang-orang berkata, "Najd kami juga." Nabi kembali bersabda, "Ya Allah! Memberkati Syam dan Yaman kami." Mereka berkata lagi, "Najd kami juga." Mengenai hal itu Nabi (صلى الله عليه وسلم) bersabda, "Akan muncul gempa bumi dan penderitaan, dan dari situ akan keluar sisi kepala Setan."